Rabu, 27 Mei 2020 14:52 WIB

Banyak Pemudik Lolos, Upaya Pemerintah Dinilai Gagal

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan berjalan menaiki bus yang akan membawa mereka ke Terminal Pulogebang, Jakarta, di Pintu Tol Cikarang Barat, Bekasi, Jawa Barat, Kamis (21/5/2020). Calon pemudik yang terjaring razia penyekatan oleh Polda Metro Jaya tersebut dibawa ke terminal Pulogebang untuk kemudian diarahkan kembali menuju Jakarta. ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/aww. Pemudik terjaring razia di pos penyekatan. Foto: ANTARA FOTO/NOVA WAHYUDI
Jakarta -

Di saat pemerintah melarang mudik di tengah pandemi virus Corona (COVID-19), masih banyak masyarakat yang nekat pulang kampung. Beragam cara dilakukan agar tetap bisa mudik. Misalnya lewat jalur tikus, menumpang di truk, hingga menggunakan jasa travel gelap dilakukan pemudik yang nekat.

Pengamat transportasi yang juga Ketua Bidang Advokasi dan Kemasyarakatan Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Pusat, Djoko Setijowarno, mengatakan berdasarkan data masih banyak warga yang nekat untuk mudik dan berusaha untuk mencapai tujuannya. Menurut informasi dari Dinas Perhubungan Jawa Tengah, sebanyak 897.713 orang mudik telah memasuki Jawa Tengah.

"Dari sejumlah itu, mayoritas pemudik datang menggunakan moda angkutan jalan raya. Sejak tanggal 26 Maret 2020 hingga tanggal 23 Mei 2020, sebanyak 643.243 pemudik diperkirakan telah memasuki wilayah Provinsi Jawa Tengah. Dari total 643.243 pemudik itu sebanyak 406.920 orang atau 63 persen menggunakan moda angkutan jalan. Kemudian menyusul kereta api 176.749 orang atau 28 persen, lalu pesawat udara 52.275 orang atau 8 persen dan kapal laut 7.299 orang atau satu persen," sebut Djoko dalam pernyataannya yang diterima detikOto.

Dia mengatakan, petugas kepolisian sudah semaksimal mungkin melakukan penyekatan di jalan raya untuk mencegah warga yang mudik menggunakan kendaraan bermotor. Tapi, ikhtiar warga untuk memaksa mudik tidak bisa dibendung, seperti lewat jalan tikus, tidak taat aturan dan tidak membawa surat keterangan sehat.

"Upaya pemerintah untuk mencegah warga Jabodetabek tidak melakukan mudik mengalami kegagalan. Cukup ketat pengawasan di terminal bus, stasiun, pelabuhan penyeberangan dan bandara udara. Selain keterbatasan personel untuk melakukan pencegahan juga tingkat kesadaran masyarakat masih sangat rendah terhadap bahaya penyebaran virus Corona di masa pandemi ini," sebut Djoko.

"Dampak mudik yang dipaksakan oleh sebagian warga yang kurang memahami kesehatan dirinya, keluarganya dan lingkungannya, bisa jadi potensi terjadi penyebaran virus Corona ke daerah. Harapan kita bersama, semoga penyebaran virus Corona tidak banyak beralih ke daerah," kata dia.

Djoko menyebut, mereka yang terpaksa mudik didominasi oleh kelompok masyarakat yang bekerja di sektor informal berpenghasilan harian. Tabungan yang semakin menipis, sementara tempat mata pencaharian belum menunjukkan aktivitas nyata memaksa mereka pulang kampung.

"Alasan pemudik yang datang ke Jawa Tengah sebesar 897.713 orang, terbanyak karena usaha sepi, yakni 399.812 orang (45 persen). Berikutnya, alasan lain-lain 263.459 orang (29 persen) dan alasan pemutusan hubungan kerja (PHK) 234.442 orang (26 persen)," ucap Djoko.

Kini, masyarakat yang sudah terlanjur mudik bakal kesulitan kembali ke Jakarta. Tanpa mengantongi surat izin keluar-masuk (SIKM), pemudik akan ditolak masuk Jakarta. Beberapa titik penyekatan arus balik telah didirikan.



Simak Video "Tepergok Naik Travel Gelap, 10 Pemudik Dibawa Kembali ke Jakarta"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/rip)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com