Sabtu, 23 Mei 2020 09:21 WIB

Tak Setuju Harga BBM Turun, YLKI: Absurd Kalau Harganya Seperti Air Mineral

Luthfi Anshori - detikOto
PT Pertamina (Persero) menurunkan harga BBM. Penurunan ini berlaku mulai Minggu 5 Januari 2020 pukul 00.00 waktu setempat. Ilustrasi SPBU Pertamina.(Foto: Antara Foto/M Agung Rajasa)
Jakarta -

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) kurang setuju dengan kebijakan penurunan harga BBM sesuai tren dunia. Alasannya, akan menjadi konyol jika nantinya harga BBM menjadi semurah air mineral kemasan.

Banyak pihak berharap pemerintah Indonesia menurunkan harga BBM (Bahan Bakar Minyak) karena harga minyak mentah dunia turun ke level terendah pada April lalu. Namun hingga harga minyak mentah dunia merangkak naik lagi, pemerintah Indonesia sama sekali belum menurunkan harga BBM.

Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, tidak serta merta setuju jika harga BBM di Indonesia diturunkan menyesuaikan tren harga minyak mentah dunia yang anjlok akibat perang dagang dan pandemi virus Corona. Menurut Tulus, ada pertimbangan lain yang lebih penting dari pada hak konsumen.

"Kalau saat ini BBM harganya harus turun itu kisarannya Rp 5.500 sampai Rp 6.000, kalau premium bisa lebih rendah lagi. Saya sebagai orang konsumen di satu sisi mendorong, karena itu hak konsumen untuk membeli suatu barang berdasarkan tarif yang dibayar dengan struktur biaya yang ada. Tapi kalau pendekatan lembaga konsumen bukan soal harga dan kualitas saja dalam konteks BBM," buka Tulus dalam virtual public discussion, yang digelar Komisi Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB), Jumat (22/5/2020).

Menurut Tulus, lembaga konsumen di seluruh dunia termasuk YLKI sangat memberikan konsentrasi terhadap pengembangan konsumsi berkelanjutan atau sustainable consumption.

"Maka untuk BBM yang notabene merupakan energi fosil, saya kira menjadi sangat absurd (konyol) kalau kemudian bakal dijual semurah kacang goreng, semurah sebotol air mineral. Padahal BBM ini investasi yang sangat mahal dan kemudian karena masalah-masalah perang dagang, masalah pandemi seperti ini, lalu turun ke titik nadir. Tapi apakah kemudian kita harus menjual BBM semurah mungkin? Saya kira ini harus dipertimbangkan," jelas Tulus.

Tulus menambahkan, jika harga BBM di Indonesia saat ini diturunkan dan akan menjadi murah seterusnya, itu akan menghambat pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT) dan di sisi lain akan mendorong penggunaan kendaraan pribadi besar-besaran dan menurunkan jumlah penumpang angkutan umum.

"Kalau ini langgeng abadi, benar-benar murah, ini akan mengancam keberlangsungan pengembangan EBT. Indonesia ini negara yang melimpah soal EBT, karena geothermal EBT di dunia, 40 persen pasokannya ada di kita. Selama ini EBT tidak pernah berkembang dengan baik, bahkan tidak serius dikembangkan, karena kita tersandera energi fosil, salah satunya minyak. Ini kalau dijual murah terus menerus akan mengancam EBT," katanya lagi.

"Kemudian juga akan mengancam keberlangsungan angkutan massal. Nanti kalau BBM dimurahkan, orang-orang beramai-ramai akan meninggalkan KRL, MRT, LRT. Jadi untuk apa berdesak-desakan, lebih baik naik sepeda motor atau mobil pribadi karena BBM murah dan terhindar dari COVID-19," ujar Tulus.



Simak Video "Listrik Padam, PLN Wajib Ganti Rugi?"
[Gambas:Video 20detik]
(lua/din)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com