Jumat, 15 Mei 2020 08:08 WIB

Tak Ada Mudik, Pengusaha Bus Kehilangan Pemasukan Rp 500 Juta Per Hari

M Luthfi Andika - detikOto
Bus Sumber Alam yang dilelang untuk melawan virus Corona Tidak ada mudik pada Lebaran tahun ini, perusahaan otobus kehilangan pemasukan Rp 500 juta sehari (tangkapan layar Youtube Sumber Alam
Jakarta -

Periode Lebaran biasanya jadi masa panen perusahaan otobus. Tapi karena virus corona dan kini mudik dilarang, potensi pendapatan Rp 500 juta per hari menguap.

Demikian disampaikan owner PO Bus Sumber Alam, Anthony Steven Hambali dalam perbincangan dengan detik.com. Periode H-7 sampai H+7 Lebaran biasanya menjadi puncak arus mudik. Itu artinya banyak armada bus yang terisi penuh. Keuntungan besar pun masuk kantong.

Tapi di tahun ini kondisi tersebut tak terulang. Pandemi virus Corona membuyarkan semuanya. Banyak daerah menerapkan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sementara pemerintah pusat juga melarang mudik.

"Kami kehilangan pendapatan potensial saat lebaran tahun ini sekitar Rp 500 juta per hari. Hitungannya dalam kurun waktu dua Minggu, -7 hari sebelum lebaran dan +7 setelah lebaran," kata Anthony.

PO Bus Sumber Alam punya ratusan bus yang kini mandeg beroperasi. Bus-bus itu kini kanya terparkir, padahal ada biaya perawatan yang tetap harus dikeluarkan.

Kebijakan pemerintah yang menginzinkan seluruh moda transportasi kembali beroperasi juga tak banyak membantu. Soalnya warga yang ingin pergi ke luar kota harus memenuhi persyaratan ketat. Alhasil di pekan ini Sumber Alam sempat menjalani rute Jakarta-Yogyakarta dengan hanya membawa dua penumpang.

Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Istiono bersama dirjen perhubungan darat Budi Setiyadi melakukan inspeksi ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Sabtu (9/5/2020).Kepala Korps Lalu Lintas Polri Inspektur Jenderal Istiono bersama dirjen perhubungan darat Budi Setiyadi melakukan inspeksi ke Terminal Pulo Gebang, Jakarta, Sabtu (9/5/2020). Foto: Agung Pambudhy

"Jadi untuk bisa beroperasi itu, bus akan diberikan stiker. Kebetulan kami mendapatkan 2 bus yang berstiker, tapi hanya ada 1 bus yang beroperasi karena kan harus bergantian atau hari operasionalnya selang-seling," ujar Anthony.

"Kriteria untuk bus yang mendapatkan stiker dan rute perjalanan kami tidak tahu. Sepertinya stiker ini dari pemerintah, kami tidak tahu pastinya karena ada banyak juga yang tidak dapatkannya. Jadi waktu itu stiker langsung diberikan pada acara di Pulo Gebang Sabtu kemarin," Anthony menambahkan.

Selanjutnya soal kerugian lainnya, lanjut Anthony. Dengan membawa penumpang sedikit tidak akan bisa menutupi biaya operasional setiap harinya.

"Untuk bus, biaya operasionalnya per unit yang ke Jakarta sekitar Rp 3 juta. Sedangkan untuk operasional kantor dan lain-lain biaya operasionalnya mencapai Rp 250 jutaan per bulan," pungkas Anthony.

Selanjutnya
Halaman
1 2
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com