Berita Populer: Dari Pemulung Jadi Modifikator Interior Mobil Artis

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Rabu, 07 Agu 2019 07:45 WIB
Berita Populer: Dari Pemulung Jadi Modifikator Interior Mobil Artis
Foto: Rengga Sancaya

Di balik kisah sukses Hardi yang kini dipercaya oleh selebritis, lelaki kelahiran Blora, Jawa Tengah, ini ternyata memiliki sejarah kelam yang mengiringi perjalanan hidupnya. Hardi terang-terangan mengaku pernah menjadi tunawisma saat kali pertama menjejakkan kaki di Jakarta.

"Ya, kurang lebih seperti itu (pernah jadi pemulung)," kata Hardi, ketika ditemui awak detikcom, di bengkelnya di Bekasi, Jawa Barat, (1/8/2019).

Hardi bercerita, pengalamannya saat memutuskan mengadu nasib ke ibu kota merupakan bentuk pelarian atas sikap kenakalan saat remaja dan kepenatannya ketika hidup dalam kondisi serba kurang.

"Tahun 2007 itu saya mulai merantau dari Blora ke Jakarta. Ketika di desa, saya bisa dikatakan menjadi sampah masyarakat lah. Karena saya juga boleh dikatakan dari keluarga kurang mampu dan petingkah (nakal). Akhirnya saat ada kesempatan merantau, saya ambil itu. Saya ke Jakarta naik truk bareng dua orang rekan," cerita Hardi.

Tanpa ada kenalan siapa pun, Hardi bersama rekannya hidup tanpa tujuan dan mereka pun akhirnya bekerja apa saja demi menyambung hidup.

"Kebetulan saat numpang naik truk ke Jakarta itu ternyata di dalam baknya isinya pemulung semua. Saya kemudian sampai di daerah Menceng di belakang Bandar Udara Soekarno-Hatta (Cengkareng, Tangerang). Akhirnya saya tinggal dekat situ dan ikut menjadi pemulung," katanya lagi.

Singkat cerita, Hardi mulai menemukan pekerjaan lain yang ditawarkan oleh saudaranya. Ia sempat bekerja menjadi kuli di sebuah proyek di Grogol.

"Sampai kemudian saya bertemu sama Mas Totok, dan dia mengajak saya untuk bekerja di bagian jok mobil. Dan dia ngomong, 'Kamu kalau masuk ke tempat ini, jangan harapin gaji, paling sebulan hanya Rp 300 ribu'. Dan kemudian saya pikir, ya nggak apa-apa lah. 2007 akhir saya kerja di sini," lanjutnya.

Kendati berpenghasilan minim, Hardi mengaku tidak memikirkannya. Ia punya prinsip untuk mengenyampingkan nilai gaji tapi di sisi lain bisa mendapat pengalaman kerja yang berharga.

"Saya selama bekerja digaji Rp 300 ribu saya tidak memikirkan. Tapi saya berpikir, bagaimana cara menguasai (keahlian) di bagian produksi, bagian pemasangan, hingga marketing. Dan saya belajar di sini, sekitar dua tahun. Sampai 2010 awal saya kemudian dapat gaji sekitar Rp 1,7 juta," ungkapnya.

Setelah menguasai berbagai aspek di bisnis modifikasi interior mobil Hardi akhirnya membuka bengkel sendiri.

"2010 sempet bikin usaha patungan di MGK Kemayoran. Saya juga sempat kerja di dunia entertainment di tahun 2013 saat bisnis mulai berjalan. Kemudian, akhirnya saya harus memilih. Saya pilih usaha. Dulu buka di Galaxy, Bekasi tahun 2015. Seiring berjalan waktu, saya harus cari tempat besar. Kemudian pindah ke Pekayon sejak dua tahun lalu (2017)," cerita Hardi.