Senin, 18 Feb 2019 16:35 WIB

Kalau Pemerintah Serius soal B100, Isuzu Siap Pelajari

M Luthfi Andika - detikOto
Ilustrasi Foto: Achmad Dwi Afriyadi Ilustrasi Foto: Achmad Dwi Afriyadi
Jakarta - Saat ada pernyataan kita sebagai pengendara harus mengurangi penggunaan bahan bakar berbahan fosil, pasti Otolovers banyak yang setuju dengan pernyataan itu. Tapi Otolovers tahu tidak untuk bisa mewujudkan hal tersebut, itu membutuhkan investasi yang besar dan teknologi baru pastinya.

Sebut saja seperti rencana Calon Presiden (Capres) 01 Joko Widodo tadi malam mengatakan akan mengurangi penggunaan bahan bakar fosil. Salah satunya memimpikan Indonesia bakal memiliki bahan bakar Biodiesel B100.



Indonesia sejak 2 tahun lalu sudah menggalakkan penerapan bahan bakar B30, sebagai kelanjutan dari B20. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Menteri LHK Nomor P20/MenLHK/Setjem/Kum.1/3/2017.

Meski demikian, rencana untuk bisa mewujudkan B100 tidaklah mudah. Bahkan hingga saat ini Isuzu yang notabene sebagai pabrikan yang memproduksi kendaraan dengan menggunakan bahan bakar diesel, mengakui saat ini belum memiliki teknologi yang sanggup menelan bahan bakar B100.

"Indonesia mau B100-nya kapan saja kita belum tahu. Dan kalau ditanya apakah kami sudah siap teknologinya (B100), saat ini kami belum punya teknologinya," kata Head of Marketing Communication IAMI, Puti Annisa Moeloek, kepada detikOto.



Puti menjelaskan, jika memang pemerintah memang serius untuk mengembangkan bahan bakar B100, Isuzu siap duduk bersama untuk membicarakan kelanjutan dan realisasi B100.

"Untuk bisa melahirkan satu teknologi, ini tidak dalam waktu cepat. Karena kita harus menambah investasi. Dan jika memang pemerintah serius, ayo kita pelajari bersama-sama," tambah Annisa.

Penggunaan bahan bakar B100 mencuat setelah debat kedua Calon Presiden (Capres) 2019. Jokowi mengatakan saat ini pemerintah telah memanfaatkan kelapa sawit dalam program Biodiesel 20% atau B20. "Supaya Pak Prabowo tahu, kita telah mulai B20 dan sudah berproduksi 98% dari yang kita harapkan," kata Jokowi dalam Debat Capres Jilid 2 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/2/2019) tadi malam.

"Pemakaian biodiesel sudah kita mulai dengan produksi B20 akan lanjut ke B100 sehingga ketergantungan fosil akan dikurangi dari tahun ke tahun," sambungnya.

Memang tidak mudah untuk mengaplikasikan penggunaan biodiesel. Pelaku dunia transportasi sebelumnya sudah mewanti-wanti soal penggunaan biodiesel. Ada dampak negatif dan dampak positifnya terkait pemakaian biodiesel di mesin armada bus. Secara bisnis, masuk di akal karena harganya murah.



Namun secara teknis, penggunaan biodiesel di mesin kendaraan bisa memperpendek usia filter solar. Jadi pengusaha harus mengeluarkan biaya lebih untuk penggantian filter.

Menjawab kekhawatiran pengguna bus atau truk beberapa merek truk/bus sudah menggunakan double filter agar mengurangi jelaga di mesin kendaraan. Produsen juga sudah memberikan kepastian kalau penggunaan B20 tidak akan menggugurkan garansi.

Produsen juga memberikan beberapa saran kepada pengguna bus dan truk untuk memeriksa ketinggian oli mesin dengan dipstick secara rutin sebelum memulai menghidupkan mesin, mengecek water sedimentor secara berkala, mengganti filter solar secara berkala sesuai dengan buku panduan pemilik kendaraan, mengecek kondisi tangki bahan bakar, membersihkan dan melakukan penirisan tangki bahan bakar jika diperlukan.


Tonton juga video Bidik Perhatian Investor, 6 BUMN Gandeng Surveyor Indonesia:

[Gambas:Video 20detik]


Kalau Pemerintah Serius soal B100, Isuzu Siap Pelajari
(lth/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com