Jumat, 27 Jul 2018 17:40 WIB

Jangan Harap Ada Truk Hybrid atau Listrik di RI dalam Waktu Dekat

Ruly Kurniawan - detikOto
Scania New Truck Generation. Foto: Ruly Kurniawan Scania New Truck Generation. Foto: Ruly Kurniawan
Jakarta - Indonesia tengah berupaya untuk melakukan langkah besar yakni ke era kendaraan elektrifikasi. Nantinya, pada tahun 2025 paling tidak 20 persen dari total produksi kendaraan adalah kendaraan emisi rendah (hybrid atau listrik dan sejenisnya).

Namun hal tersebut tampaknya tak berlaku untuk truk. Sebab, banyak hal yang harus diperhatikan ketika berbicara truk hybrid atau listrik. Dengan perspektif dan infrastuktur Indonesia sekarang, jangan harap ada truk hybrid atau listrik dalam waktu dekat.

"Truk hybrid atau truk elektrik sedang cukup populer di berbagai kota-kota di negara besar. China contohnya, hal ini sudah mulai diterapkan. Karena, perpindahan teknologi pada truk ini secara signifikan mampu meredam polusi dan tingkat kebisingan," papar Scania Senior Vice President of Trucks Sales and Marketing, Alexander Vlaskamp kepada detikOto di JIExpo, Kemayoran, Jakarta, (26/7/2018) semalam.



"Tapi untuk Indonesia, saya rasa tidak akan hadir dalam waktu dekat. Bila tiba saatnya kota-kota di Indonesia sudah menganggap penting, hal ini bisa terealisasi. Paling cepat mungkin 5 sampai 10 tahun ke depan baru mulai dipikirkan," tambahnya.

Hal itu mengacu pada China yang membutuhkan waktu 25 tahun hanya demi menyadari bahwa truk hybrid dan listrik penting.

"Di China mereka butuh 25 tahun untuk sadar bahwa truk juga penting didewasakan. Jadi saya rasa tidak bisa diharapkan truk hybrid maupun listrik beroperasi di Indonesia dalam waktu singkat karena kota-kota di Indonesia sangat besar," lanjut Alexander.

Selain itu, perubahan kebiasaan sopir truk maupun pengguna jalan yang lain harus juga berubah agar truk hybrid maupun listrik bisa beroperasi di Indonesia. Seperti membiasakan diri tidak overload.

"Ya saya sih tidak bisa berharap di Indonesia dengan kota yang begitu besar akan berubah semua attitude-nya. Tapi kalau di kota-kota besar itu makin padat dan orang makin resah akan polusi dan tingkat kebisingan, kita ada peluang melangkah ke sana," tutup Alexander.



Di kesempatan yang sama, Marketing Director PT United Tractors Tbk Loudy Irwanto Ellias mengatakan hari ini Indonesia belum memiliki regulasi khusus truk rendah emisi. Karena, tanpa insentif para pebisnis akan merasa tidak mendapat manfaat dari menggunakan truk hybrid ataupun listrik.

"Kalau kebijakannya ada, jelas, saya rasa kita bisa mendewasakan truk di Indonesia. Scania produknya siap. Hanya saja, kalau tidak ada insentif ya banyak pihak yang berpikir bahwa truk hybrid atau listrik tidak ada manfaatnya. Hanya menambah beban saja," tutupnya.

Beberapa waktu lalu, Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi dan Alat Pertahanan Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, juga setuju bahwa hari ini Indonesia belum siap untuk mendewasakan truk. Tapi bukan berarti menjadikan truk menjadi kendaraan rendah emisi mustahil.

"Jadi saya rasa tidak semua kendaraan bisa sepenuhnya listrik misalkan mobil beroda lebih dari empat. Karena selain tidak efektif dan efisien, mobil itu juga memiliki muatan baterai yang lebih besar. Ngisi baterainya bisa seharian mungkin. Tapi saya tidak tahu ke depan akan ada inovasi seperti apa untuk menanggulanginya. Kalau untuk sekarang, ya truk belum bisa diubah menjadi kendaraan listrik," kata Putu.



Belum Siap Produksi Truk di Indonesia

Sementara itu, Scania belum tergoda untuk membuat pabrik perakitan sendiri di Indonesia. Itulah yang dipaparkan oleh Alexander Vlaskamp.

"Target kami, di 2020 dari total penjualan Scania sepertiganya adalah dari Asia. Kami juga melihat bahwa Indonesia merupakan pasar penting bagi Scania," katanya.

"Namun untuk membuat pabrik perakitan sendiri, kami belum ada rencana. Tetapi guna memudahkan konsumen untuk melakukan pembelian part kita ada spare part distribution resmi di Balikpapan," tambah Alexander.

Sampai saat ini, bus maupun truk Scania yang beroperasi di Indonesia masih rakitan Swedia maupun China. Padahal pada tahun 2016 lalu, Kementerian Perhubungan Budi Karya Sumadi berbicara kepada Menteri Perdagangan Swedia Ann Linde untuk meminta Scania membuat pabrik di Indonesia.

"Kalau kita ingin membuat pabrik sendiri, itu harus kita berbicara volume. Kalau untuk saat ini saya rasa belum terpenuhi," ujar Loudy Irwanto Ellias kepada detikOto di kesempatan sama.

"Tapi kita memiliki rencana untuk membangun pabrik perakitan di Thailand dan nantinya bus maupun truk Scania di kawasan sekitarnya akan dipasok dari situ. Thailand merupakan kawasan yang strategis, sehingga pengiriman efisien," tutup Alexander. (ruk/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com