Kamis, 15 Feb 2018 16:59 WIB

Ojek Cinta

Ojek Cinta Buat Anak Sekolah

Ruly Kurniawan - detikOto
Foto: Ruly Kurniawan
Otofokus Ojek Cinta
Jakarta - Mengantarkan anak-anak ke sekolah sudah menjadi kebiasaan rutin Shafroni. Shaforoni tak sungkan kala di sekolah itu mayoritas yang antar jemput adalah ibu-ibu.

Ia dengan putrinya sempat mencuri mata ibu-ibu dalam beberapa detik. Terlebih ketika ciuman hangat di pipi putrinya mendarat untuk menjadi penutup obrolan mereka di kala itu.

"Ia saya yang biasa mengantarkan ke sekolah, karena ibunya kerja dan berangkat pagi. Kalau saya kan waktunya bebas," tutur Shafroni, pengendara ojek online yang tengah mengantarkan anaknya di sekolah tersebut.

"Memang di sini biasanya yang anter-jemput mayoritas ibu-ibu. Tapi nggak apalah," lanjutnya.

Karena tampak sedang terburu-buru, tak banyak kata yang diucapkan olehnya kepada detikOto. "Setelah ini saya makan, lalu narik lagi, mas, sampai sore. Nanti baru dijemput lagi," ujar Shafroni.

Shafroni tak pernah absen menyempatkan diri mengantarkan putri pertamanya sekolah. Meski sudah menginjak kelas 2 SD, Shafroni masih tidak ingin membiarkan salah satu primadona hatinya melangkah dengan sendiri. "Karena sekarang kan sudah banyak kasus macam-macam, mas. Takut saja. Jadi walaupun saya ngojek online, setiap siang pasti mengantar anak ke sekolah," katanya.

Sebelum merelakan sang putri untuk berjuang sendiri menggapai cita-citanya, Shafroni selalu memberikan ritual hangat yakni kecupan di pipi. Bukan hanya sebagai salah satu bentuk kasih sayangnya, tetapi juga mengingatkan bahwa sang Ayah selalu mendukung dirinya.

"Memang seperti ini, mas. Sudah jadi kebiasaan. Bentuk kasih sayang saja, sema biar selalu ingat bahwa di rumah keluarga menanti," kata Shafroni.

Lain Shafroni, lain Veronica. Nenek berusia 51 tahun ini lebih sering mengantarkan cucunya sambil berkeringat. Jerih payahnya menjadi ojek cinta bagi sang cucu sangat luar biasa. Di usianya yang tidak muda lagi, ia rela mengayuh sepeda ataupun menggendong si cucu saat jalanan becek ataupun hujan cukup besar.

Foto: Ruly Kurniawan


"Saya tidak pakai motor karena waktu itu sempat jatuh. Jadi sekarang saya pakai sepeda ontel saja atau tidak kalau sedang hujan dan becek, saya gendong. Pakai jaket, payung, sudah deh jalan. Takut jatuh soalnya (kalau naik sepeda atau motor). Saya mulai aktivitas jam 5 yakni beres-beres rumah. Lalu jam setengah 7 antar cucu, belanja, masak, jam 11.30 jemput cucu, dan hal lainnya sampai 10 malam," lanjut Veronica dengan ceria.

"Ya namanya juga sayang, tidak akan pernah terputus. Bahkan saya senang menjalankannya (menjadi ojek cinta dan mengurus pekerjaan rumah). Dari Gerasimos masih kecil sudah sama saya, dia. Ibunya kan kerja, bapaknya juga. Jadi setiap sekolah selalu saya antar," imbuhnya.

Seperti halnya Shafroni, Veronica memilih mengantar sendiri cucunya karena khawatir dengan cucunya. "Sekalian ngejagain juga saya jadinya, karena kan sekarang sudah ngeri ya. Kemarin tuh di sekolahan (dari berita) ada yang sampai diculik oleh gurunya sendiri. Jadi selagi saya sempat dan kuat, ya kenapa tidak," ujarnya.

"Saya dulu punya warung, mas. Tapi beberapa tahun lalu sudah ditutup dan tidak boleh lagi berjualan (oleh suaminya). Jadi ya sudah saya ngurus cucu saja," ujar Veronica. "Lagian saya juga gak ngapa-ngapain di rumah. Jadi terhitung olahraga," lanjutnya. (ruk/ddn)
Otofokus Ojek Cinta
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com