Kepala BGN Klaim MBG Dongkrak Penjualan Otomotif di Indonesia

Kepala BGN Klaim MBG Dongkrak Penjualan Otomotif di Indonesia

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Selasa, 17 Feb 2026 08:21 WIB
Kepala BGN Dadan Hindayana
Kepala BGN Dadan Hindayana (Belia/detikcom)
Jakarta -

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengklaim, program makan bergizi gratis (MBG) turut mendongkrak penjualan otomotif di Indonesia tahun lalu. Sebab, selain meningkatnya kebutuhan armada, para karyawan memiliki kesanggupan membeli kendaraan baru.

Dadan menjelaskan, kontribusi itu berasal dari pembelian kendaraan roda dua oleh sejumlah pegawai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sebanyak 60 persen dari total pegawai SPPG berkontribusi terhadap penjualan motor sepanjang 2025.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Program MBG tidak hanya menyasar produk-produk pertanian seperti bahan baku (yang mendapat untung dari program MBG)," ujar Dadan, dikutip dari Antaranews, Senin (16/2).

"Tetapi berdasarkan data dari perusahaan kendaraan bermotor, angka penjualan motor di Indonesia mencapai 4,9 juta unit di tahun 2025 yang terdongkrak oleh MBG. Di SPPG, 60 persen pegawainya bisa beli motor," tambahnya.

ADVERTISEMENT
Relawan mengemas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di SPPG Polda Sultra, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (19/1/2026). Kementerian Kesehatan mencatat hingga 8 Januari 2026 sebanyak 4.535 SPPG telah memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) dari total 19.188 SPPG yang terdaftar di Badan Gizi Nasional (BGN). ANTARA FOTO/Andry Denisah/wsj.Pegawai MBG. Foto: ANTARA FOTO/Andry Denisah

Program MBG juga mendorong penjualan mobil komersial di Indonesia. Sebab, dapur-dapur umum membutuhkan armada untuk mengangkut makanan ke sekolah-sekolah tujuan.

Di tempat berbeda, Customer Relation Division Head PT Astra International Tbk - Daihatsu Sales Operation (AI DSO) Tri Mulyono membenarkan, program MBG mendorong penjualan mobil di Indonesia. Namun, kata dia, pembeli kendaraan terkait menggunakan nama pribadi, bukan institusi.

Hal itu membuat perusahaan tidak dapat mengidentifikasi secara spesifik berapa unit yang benar-benar digunakan untuk proyek tersebut.

"Sehingga kami sebenarnya tidak bisa mengidentifikasi apakah ini digunakannya untuk apa, karena kan namanya tidak spesifik dengan naming tertentu gitu, dengan nama pribadi," tutur Tri.

"Kalau terdampak (program MBG), iya. Tetapi kalau berapa besar rasanya memang tidak bisa sampai ke sana," kata dia menambahkan.

Hal senada juga disampaikan Sri Agung Handayani selaku Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Hanya saja, sama seperti Tri, dia tak bisa mengungkap sebesar apa dampaknya untuk pabrikan.

"Perlu kami sampaikan, ada (dampaknya ke penjualan mobil)," kata dia.




(sfn/dry)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads