Aturan tersebut ternyata membuat para importir ban dan juga pelaku usaha di sektor transportasi pertambangan, logistik, dan kegiatan lain di sektor riil kesulitan.
Seperti yang dikeluhkan oleh Gabungan Importir dan Pedagang Ban Indonesia (Gimpabi). Padahal kontribusi ban yang diimpor untuk kegiatan tersebut hanya sekitar 5-10 persen saja.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu juga mengakibatkan ban-ban yang digunakan untuk kebutuhan tertentu itu menjadi langka dan dijual dengan harga yang tinggi. Menurut Rudy sebagian besar ban impor merupakan jenis ban radial, ban pelabuhan, ban pertambangan, dan ban perkebunan yang diameternya bisa mencapai 2 hingga 3 meter.
"Total market ban impor hanya 5-10 persen dibanding market ban Indonesia tapi mengakibatkan efek domino yang besar," tutur Rudy.
Porsi ban impor yang kecil itu juga kata Rudy bukanlah ancaman untuk ban yang diproduksi di Indonesia. (dry/ddn)












































Komentar Terbanyak
Pajak Avanza di Indonesia Rp 5 Juta, Malaysia Rp 600 Ribu, Thailand Rp 150 Ribu
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Penjualan Mobil di Indonesia Nyaris Disalip Malaysia, Menperin: Ini Alarm!