Direktur Eksekutif KPPB, Ahmad Safrudin mengatakan ada sebuah bisnis yang tidak wajar soal harga BBM.
"Untouchable, kebijakan harga BBM masih gelap. Kenapa? Tidak efisien dan penuh permainan, di mana Kementrian ESDM dan Pertamina lebih suka mempertahankan harga tinggi dalam memproduksi dan mendistribusikan BBM yang berkualitas rendah," ujarnya kepada wartawan, di Jakarta, Jumat (30/12/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namun Pertamina hanya ambil harga MOPS, sebagai patokan. Sedangkan kualitas BBM pada MOPS diabaikan oleh Pertamina," katanya.
Selain itu, lanjut Puput mengatakan, Papua menjadi salah satu korban atas permainan Pertamina dan oknum lainnya yang menjadikan harga BBM di Papua lebih tinggi.
"Itu saya yakin ada oknum yang lobi Pertamina agar distribusi tidak sampai ke Papua dan mereka yang memainkannya," ujarnya.
"Karena jika melihat dari ketetapan pemerintah terkait struktur harga BBM, biaya distribusi 3% itu sudah cukup menyetarakan harga BBM di seluruh Indonesia," ucap Puput.
Biaya distribusi 3% yang dimaksud Puput adalah pecahan dari biaya total struktur harga BBM. Dan struktur tersebut sebagai yakni 83,4% biaya pembelian minyak mentah + 6% biaya pengolahan + biaya angkutan 5,8% + biaya distribusi 3% + biaya lainnya 1,8%. (khi/rgr)












































Komentar Terbanyak
Warga Ngeluh Bayar Pajak Kendaraan Dipersulit, 'Nembak' KTP Asli Rp 700 Ribu
Viral 70 Ribu Motor Listrik buat Operasional MBG, Harganya Bikin Kaget!
Spesifikasi Motor Listrik Buat Operasional MBG, Harga Mulai Rp 49 Jutaan