Rabu, 07 Des 2016 15:34 WIB

Ini Alasan Surabaya Disebut Kota Paling Aman untuk Berkendara di Indonesia

Dina Rayanti - detikOto
Jembatan Suroboyo. Foto: Zainal Effendi/Detikcom
Jakarta - Surabaya disebut sebagai kota paling aman di Indonesia berdasarkan penilaian Indonesia Road Safety Award (IRSA) 2016. Penilaian ini didasarkan pada lima pilar yang terdapat dalam Rancangan Umum Nasional Keselamatan Jalan (RUNK) yaitu manajemen keselamatan jalan, jalan yang berkeselamatan, kendaraan yang berkeselamatan, perilaku pengguna jalan yang berkeselamatan, dan penanganan pra dan pasca kecelakaan.

Surabaya memenuhi kelima pilar tersebut. Banyak hal yang dilakukan Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini demi mengurangi angka kecelakaan serta pertolongan terhadap kecelakaan bisa lebih cepat dilakukan.

Surabaya memiliki program pembinaan keselamatan Surabaya Tertib Lalu Lintas (Superlantas), Anak-anak Cinta Lalu Lintas (ANCITA), dan Kampung Safety Riding. Demi membuat pejalan kaki aman, hingga saat ini Surabaya telah membangun 48 km trotoar.

"Sudah 48 km trotar dibangun, tidak hanya trotoar. Trotoar juga berfungsi sebagai long water storage mengatasi banjir untuk keselamatan pejalan kaki dan juga street furniture jadi bagaimana membuat orang nyaman karena beliau memang arsitek jadi bagaimana trotoar itu aman sekaligus nyaman," ujar Kadishub Surabaya, Irvan Wahyudrajad di Jakarta.

Selain itu Irvan menambahkan, Surabaya menjadi kota dengan jumlah rambu lalu lintas terbanyak ada sekitar 3.425 rambu yang dibangun.

"Prasarana lalu lintas rambu-rambu, traffic light mungkin satu-satunya di kota yang paling banyak pedestrian cross traffic light yang berbunyi tetot tetot itu jadi kalau ditombo gitu, itu paling diminati masyarakat ketika menyeberang jalan. Marka rambu kecepatan, mungkin kami yang terbanyak yang memasang batas kecepatan di seluruh Indonesia karena kami sadar ketika kami membangun jalan,demikian lebar tampak 4-5 lajur itu persoalan baru karena kecepatan menjadi pembunuh di beberapa kecelakaan terjadi," tutur Irvan.

"Kami memasang hampir tiap hari tidak pernah henti rambu batas kecepatan 40 km, meski batasnya adalah 50 km/jam tapi kami batasi 40 karena di atas 40 berdasarkan teori, fatalitas dan kemampuan mengontrol kendaraan itu sangat tinggi risikonya," sambung Irvan lagi.

Kini pemerintah Surabaya juga tengah gencar mengampanyekan keselamatan berkendara ke sekolah dan kampung-kampung. Pihaknya juga bekerja sama dengan APM (Agen Pemegang Merek) kendaraan dengan dengan membangun learning centre.

"Kami menyasar ke sekolah itu oke, sekolah menjadi turun karena memang tertinggi pelanggaran dan kecelakaan itu di usia muda namun pokok permasalahannya itu banyak mereka dibelikan kendaraan oleh orangtuanya padahal belum cukup umur dan belum memiliki SIM jadi kami menyasar langsung ke kampung harapannya kami mencetak banyak agen-agen pelopor keselamatan di kampung, kami training kerja sama dengan salah satu APM ada learning centre mereka diajari bagaimana berkendara yang baik, ada gaming-gaming, awarding, memotivasi mereka sehingga kita harapkan masyarakat bisa sampai ke level kampung," jelas Ivan.

Tak kalah penting, Surabaya memiliki Command Centre. Di tempat itu semua kondisi di jalanan bisa terpantau. Sehingga bila terjadi sesuatu bisa ditangani dengan cepat.

"Command Centre 2112 bagaimana bu wali mencoba melepas ego sektoral dinas, bagaimana kepolisian bekerja sendiri, Dinas PU, Dishub, Dinas Kebakaran dengan Command Centre semua dinas ada di sana. Ada orang kecebur kali pun Dishub ikut mengatur lalu lintas jadi tidak ada ego sektoral 24 jam dan semua instansi semua terekam dan termonitor jadi diharapkan respon time lebih cepat," tutup Irvan.


(dry/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com