Menurut Manager Production Unit Jakarta, PT Pertamina Lubricants, Tri Bagus Wibowo, alat-alat berteknologi canggih digunakan dalam proses produksi pelumas Pertamina mulai dari terima bahan baku pelumas sampai proses pengemasan.
"Mulai dari ujung kita terima bahan baku, proses menyimpan bahan baku, kemudian proses pengolahan blending (pencampuran bahan pelumas sesuai formulanya), sampai dengan filling atau packaging. Itu semua terintegrasi," kata Tri Bagus kepada detikOto di Production Unit Jakarta Pertamina di Tg. Priok, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kita ada 3 sistem blending. Satu disebut sebagai Automatic Batch Blending, In-line Blending dan Simultaneous Metered Blending. Semuanya dikendalikan tinggal pencet monitor, dikontrol dari control room, mereka akan beroperasi sendiri," ujar Tri Bagus.
Operation Head Lube Oil Blending Plant Jakarta, Edwin Wijaya menambahkan, Automotic Batch Blending mencampurkan Base Oil (bahan dasar pelumas) dengan bahan aditif lainnya dalam satu tangki dengan kapasitas maksimal 30 ton dalam sekali masak. Sementara In-Line Blending dan Simultaneous Metered Blending bisa mencampur bahan baku dalam kapasitas yang besar.
"In-Line Blending itu sekali blending bisa 300 ton sekali masak dengan durasi waktu 3-4 jam," kata Edwin.
Komposisi bahan dasar dan bahan aditif sudah ditentukan. Nantinya bahan dasar dan bahan aditif yang sesuai formula itu dicampur dalam sistem blending.
"Kita ada formula, misalnya mau membuat Prima XP ada formulanya. Misalkan base oil A sekian persen, base oil B sekian, C sekian, aditif A dan sebagainya dengan komposisi tertentu. Jadi kalau dijumlah dia akan 100 persen dalam skala blending. Misalnya kita buat 30 ton Prima XP, lalu kebutuhannya misalnya base oil A 10 ton, base oil B 5 ton, aditif A-nya 5 ton, dan lain-lain sehingga total 30 ton, baru dicampur sesuai prosedur," kata Tri Bagus.
Itu sudah diatur oleh komputerisasi. Petugas di control room yang berperan mengawasi sistem.
"Pemasukan bahan baku, aditif dan sebagainya semua diatur oleh sistem. Teman-teman control room yang mengawasi sistem, kata Edwin.
Pelumas yang diproduksi di sini dijaga kualitasnya. Sebelum masuk kemasan, kualitas pelumas dicek terlebih dahulu di laboratorium.
"Dari 30 ton itu diambil sample, lalu diuji di lab, dibandingkan dengan parameter spesifikasi, kalau oke boleh dikemas. Begitu mau dikemas, sebelum masuk botol, dari mesin filling juga kita sampling, kita cek lagi dibandingin dengan parameter, baru masuk ke kemasan," jelas Tri Bagus.
Dalam proses pengemasan, botol yang kosong diberi label produk terlebih dahulu, kemudian masuk ke pengisian pelumas ke dalam botol, menutup botol dan penyetakan batch number.
"Setiap satu jam sekali (setelah botol sudah terisi pelumas), diambil sampel dan diukur di gelas ukur untuk memastikan apakah volume per botolnya sama atau tidak," kata Edwin.
Baru setelah itu botol-botol yang sudah terisi pelumas dikemas dalam dus dan siap didistribusikan.
Catatan redaksi: Otolovers punya pertanyaan seputar oli kendaraan? Kirim saja pertanyaannya ke redaksi@detikoto.com (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!
Provinsi Ini Bolehkan ASN Mudik Pakai Mobil Dinas, Asalkan Bukan buat Pamer
Katanya Dikembalikan, Gubernur Kaltim Kok Pakai Range Rover Berpelat KT 1?