"Sekarang kita melihat faktor kemacetan dan keselamatan. Pertama manusia, kedua kendaraan, ketiga infrastruktur (jalan), tambahan lagi cuaca," kata Wakil Ditlantas Polda Metro Jaya, Bakharudin Muhammad Syah di sela konferensi pers acara "Eco Driving for Smart Driver", di Hotel Peninsula, Jakarta.
Menurut Bakharudin, kepatuhan masyarakat kerap kali menjadi biang keladi kemacetan dan kecelakaan. Untuk itu, edukasi budaya tertib lalu lintas pun diperlukan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara itu, ketika jalan sedang macet, kendaraan pun akan semakin banyak mengonsumsi bahan bakar. Dengan begitu, pengurangan angka kemacetan sangat diperlukan.
Menurut Managing Director TNT Indonesia, Tomy Sofhian, faktor penyebab kemacetan bukan hanya soal infrastruktur jalan dan volume kendaraan. Faktor perilaku pengendara juga berpengaruh besar terhadap kemacetan jalan.
"Sebenarnya kemacetan bukan infrastrukrur, bukan hanya volume kendaraan. Karena yang berpengaruh adalah perilaku pengemudinya. Saya pikir ini sangat penting," ujarnya.
Instruktur Safety Driving Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana menambahkan, untuk mengurangi konsumsi bahan bakar, pengetahuan pengendara juga diperlukan. Dengan berkendara yang benar, konsumsi bahan bakar akan semakin hemat.
"Yang paling penting adalah smart driver. Sehingga dengan smart driver dia mengemudi dengan santai, eco driving-nya juga dapat," katanya.
(rgr/lth)












































Komentar Terbanyak
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Kursi Depan JakLingko untuk Prioritas, Tak Semua Orang Boleh Duduk
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!