Deputi Bidang Transportasi Pemprov DKI Jakarta Sutanto Soehodo menjelaskan sistem ganjil-genap memang sangat sulit untuk dilakukan di Jakarta apalagi melihat dari berbagai negara berkembang lain yang sudah pernah melakukannya.
"Cerita ganjil-genap di negara berkembang itu banyak cerita masalahnya ketimbang keberhasilannya. Jadi ganjil genap diterapkan dibanyak negara itu karena merupakan kegiatan atau kebijakan khusus. Seperti di Beijing yang tidak diberlakukan lagi karena tidak efektif," ujar Sutanto dalam acara talkshow Cars Executive Forum kemarin malam di hotel Grand Melia, Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bagaimanapun ini merupakan kepercaan publik. Jangan sampai kebijakan publik seperti ini kemudian menjadi suatu ajang coba-coba yang bisa kemungkinan gagal. Kita sudah memperhitungkan semua," lugasnya.
Sutanto menambahkan, sistem ganjil-genap tidak hanya bisa dilakukan oleh satu pihak yakni Pemprov DKI Jakarta saja tapi harus juga mendapatkan dukungan dari pihak kepolisian dalam menegakan peraturan. Karena jika hanya dilakukan oleh satu pihak kemungkinan gagal cukup besar.
"Bayangkan jika ganjil-genap ini tidak bisa dipantau oleh pihak kepolisian. Jika ada 1 atau 2 mobil yang melanggar dan ditilang lalu dipinggirkan di jalan, maka macet akan tetap terjadi," paparnya.
Menurut Sutanto vision yang dilakukan oleh Jokowi ini merupakan solusi sekecil apapun solusi tadi dan seefektif apa itu harus dicoba karena masalahnya sudah begitu kompelks.
"Tapi kita juga tidak bisa mengatakan kalau di negara lain gagal disini (Jakarta) juga bisa gagal. Tapi kita juga tetap harus berhati-hati karena kemungkinan gagal pasti ada. Ini yang harus kita perhitungkan matang-matang," tutupnya.
(ady/lth)











































Komentar Terbanyak
Heboh Konten Kreator Rekam Usher GIIAS, Diminta Take Down Ngarep Ganti Rugi
Harga Honda Super One Diumumkan: Rp 438 Juta
Miris! Segini Banyak Pengendara yang Akali Pelat Nomor Demi Hindari ETLE