Seperti detikOto kutip dari New York Times, Rabu (9/2/2011), para penyelidik federal Amerika Serikat tidak menemukan adanya masalah atau kegagalan apapaun pada mobil-mobil Toyota.
Menteri Transportasi AS, Ray LaHood juga mengatakan mereka tidak menemukan kerusakan apapun pada mobil-mobil Toyota. Hal tersebut juga sudah disampaikan pada Badan Keselamatan Lalu Lintas dan Jalan Raya Amerika atau National Highway Traffic kemarin waktu AS.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah seorang insiyur dari National Aeronautics and Space Administration (NASA), Michael T. Kirsch turut membantu dalam penyelidikan mobil Toyota. Namun ia pun tidak menemukan kerusakan yang menyebabkan mobil-mobil Toyota berakselerasi dengan sendiri karena diakibatkan kegagalan sistem pedal atau bahkan pedal gas yang menempel karpet.
"Sangat sulit untuk membuktikan negatif," kata Michael T. Kirsch.
Ia hanya pesimis karusakan dikarenakan sensor mobil yang terintegrasi pada sistem (by wire) throttle di Toyota. Sensor dinilai salah membaca perintah. Proses penyelidikan yang memakan waktu 11 bulan itu menyebabkan Toyota terpaksa harus menarik lebih dari 11 juta unit kendaraan mereka di seluruh dunia.
Selain itu, Toyota harus membayar denda sebesar US$ 48,8 juta kepada pemerintah AS karena Toyota dianggap mengabaikan kasus tersebut. Denda tersebut merupakan denda terbesar yang dibayarkan oleh sebuah perusahaan otomotif di Amerika.
Kepala Toyota bagian Amerika Utara, Steve St. Angelo berharap dengan dinyatakannya Toyota tidak bersalah dapat membantu menaikan image mobil Toyota di AS dan pasar otomotif dunia untuk sementara ini.
Dalam waktu dekat, pemerintah AS akan melakukan penelitian kembali terhadap mobil-mobil Toyota terkait desain pedal akselerator dan rem untuk mempertegas jika komponen tersebut benar-benar tidak mengalami kerusakan. (syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Permintaan Maaf Pemobil yang Konvoi Zig-zag di Tol Becakayu
Kebut-kebutan di Tol JORR, Endingnya Pajero Sport-BMW Ringsek!
Asosiasi Ungkap Biang Kerok 'Krisis Ojol' di Jakarta: Biaya Aplikasi Dipotong Gede!