Industri Mobil Tak Masalah Premium Dibatasi

Industri Mobil Tak Masalah Premium Dibatasi

- detikOto
Jumat, 17 Sep 2010 15:58 WIB
Industri Mobil Tak Masalah Premium Dibatasi
Jakarta - Pemerintah berencana untuk membatasi penggunaan Premium untuk mobil di atas tahun 2005. Bagi produsen mobil, kebijakan itu dianggap tidak akan menimbulkan masalah di industri.

Sebab dengan menggunakan bahan bakar yang tingkatnya lebih tinggi dari Premium mesin mobil dianggap jadi dapat bekerja lebih optimal hingga akhirnya malah membawa efek yang positif tidak hanya bagi lingkungan, tapi juga pengguna mobil sekaligus.

"Mobil tahun 2005 ke atas mestinya memang harus pakai Pertamax meski bisa bekerja baik dengan Premium. Karena kalau pakai Pertamax yang memiliki oktan lebih tinggi dari Premium kerja mesin jadi lebih optimal dan gas buang kendaraan pun jadi bisa terkontrol," ungkap Presdir Indomobil Group Gunadi Sindhuwinata kepada detikOto, Jumat (17/9/2010).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Indomobil yang memegang merek mobil Suzuki, Nissan, Volvo, Volkswagen, Renault, Audi dan Chery ini menurut Gunadi malah menyambut baik kebijakan ini.

"Itu kan untuk kebaikan bersama, bagus untuk semua," tukasnya.

Sementara Daihatsu yang menjadi produsen terlaris nomor dua di Indonesia juga berpikiran hal yang sama. Daihatsu berpendapat Pertamax akan meningkatkan kinerja mesin lebih baik dari yang bisa dilakukan Premium.

"Saya melihatnya dari sisi positif. Pertamax memang lebih mahal tapi lebih efisien dan bikin mesin lebih awet," imbuh Direktur Pemasaran PT Astra Daihatsu Motor (ADM), Amelia Tjandra.

"Harusnya kita malah melihatnya sebagai pelajaran. Kalau pakai Premium yang oktannya rendah saja mobil kita sudah punya kinerja baik, apalagi pakai Pertamax yang oktannya tinggi. Pasti lebih baik lagi," pungkasnya.

Harus Diimbangi Edukasi

Ketua I Gabungan Industri Kendaraan bermotor (GAIKINDO) Jongkie D Sugiarto yang juga Presdir PT Hyundai Mobil Indonesia juga menyambut baik.

"Wah, pembatasan (BBM subsidi) itu justru bagus," ujarnya.

Jongkie menyambut baik kalau BBM subsidi dikurangi, karena secara teknis standar emisi Euro2 sudah menjadi standar di Indonesia sejak tahun 2005 lalu, dimana salah satunya mensyaratkan BBM berkadar oktan diatas 90.

"Asal diimbangi dengan edukasi kepada masyarakat dari pemerintah dan juga ATPM mengenai spesifikasi mesin standar Euro2 itu, kan bensinnya sebaiknya yang beroktan diatas 90," tambahnya.

Sehingga, menurut Jongkie, edukasi kepada masyarakat agar sadar untuk menggunakan bensin beroktan di atas 90 demi mendukung standar emisi Euro2 jauh lebih penting daripada penerapan klasterisasi.

"Karena kan sekarang di daerah elit juga kebanyakan sudah menggunakan Pertamax, tapi saya belum tau kalau di jalan tol," ungkap Jongkie.

Jadi menurut Jongkie, silakan saja BBM subsidi dibatasi, hanya saja, pemerintah dan ATPM harus lebih aktif memberikan edukasi kepada masyarakat pengguna kendaraan bermotor untuk menggunakan BBM yang sesuai dengan standar dan spesifikasi mesinnya.

Sebelumnya pemerintah mengatakan pembatasan BBM bersubsidi yakni Solar dan Premium akan dimulai pada akhir September 2010. Sistem pembatasan akan dilakukan secara klusterisasi. Kawasan elit dan SPBU di jalan tol akan dibatasi penyaluran BBM bersubsidinya.

(ddn/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads