"Kami dari pengemudi berharap jangan lah pemerintah mencabut subsidi, lalu yang dikorbankan kita, supaya tak mengisi Premium, angkutan umum jadi korban," kata Asep YK salah satu sopir Taksi Putra yang ditemui dilokasi PT. Citra Transpor Nusantara di Tanjung Barat, Jaksel, Jumat (30/7/2010).
Asep berharap masalah ini bisa segera diatasi pemerintah karena jika berlanjut maka proses mencari nafkah para supir taksi terganggu. Semenjak maraknya kasus fuel pump rusak, Asep mengaku selalu was-was jika membawa penumpang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sementara Juangga rekan Asep sesama supir taksi mengatakan pasca kejadian fuel pump rusak, pendapatannya sebagai supir taksi bisa melorot tajam. Jika normalnya sehari ia bisa mengantongi pendapatan bersih Rp 100 ribu, jika terjadi fuel pump rusak maka ia bisa menombok hingga Rp 50.000.
"Saya sudah dua hari tak beroperasi, istri di rumah akhirnya terima sajalah," katanya.
Sementara itu Kepala Badan Pengatur Hilir Migas Tubagus Haryono mengatakan tudingan adanya skenario 'paksa' pemerintah bagiΒ armada angkutan umum beralih ke BBM non subsidi, sangatlah naif.
Kebijakan pemerintah menurut Tubagus, sudah jelas jika ada pembatasan BBM subsidi maka plat kuning atau angkutan umum akan tetap mendapat subsidi.
"Jadi tak ada skenario (paksa alih ke BBM non subsidi), itu naif sekali," ucap Tubagus.
(hen/ddn)












































Komentar Terbanyak
Jawaban Pindad soal Prabowo Minta Desain Mobil Khusus Presiden Sapa Rakyat
Wacana KDM Hapus Pajak Kendaraan-Diganti Jalan Berbayar: Biar Adil
Isi Garasi Anggota DPRD yang Merokok sambil Ngegame saat Rapat