Demikian disampaikan Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi, Kementerian ESDM Evita Herawati Legowo di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (27/7/2010).
"Salah satu kemungkinan besar di tangki SPBU mungkin kotor atau gimana tangkinya. Tankinya kan harus ada tank cleaning. Tank cleaning-nya ini mungkin harus lebih sering dilakukan," jelasnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi kita sudah melakukan tes, tapi belum tuntas. Hari ini kita pergi lagi sama-sama untukΒ sampling lagi. Itu belum tuntas. Tapi Selama ini dari data yang sudah masuk, menunjukkan RONΒ (Research Octane Number), destilasi, kandungan sulfur sudah masuk spek," ujar Evita.
Meski berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan, sebagian besar dari 11 parameter yang diuji tersebut menunjukkan hasil yang bagus. Namun tim gabungan yang terdiri dari tim dari Lemigas, BPH Migas dan Pertamina masih melakukan pengecekan ulang di sejumlah SPBU untuk mencari tahu apa sebenarnya penyebab dari rusak pompa bahan bakar (fuel pump)Β mobil.
"Tapi kita tetap masih ingin mencari penyebabnya. Walaupun untuk sementara kelihatannya BBM yang dijual sesuai spek," tegasnya.
Evita mengatakan, Pertamina sudah mengambil sampel Premium di tujuh lokasi dan pemerintah di empat lokasi. Dari tiap lokasi, lanjutnya, diambil lebih dari satu contoh.
Pemerintah juga tidak hanya melakukan pengecekan premium yang ada di SPBU-SPBU. Namun pengecekan juga dilakukan terhadap spesifikasi BBM saat masih ada di kilang pengolahan, sebelum Premium itu dibawa ke depot Plumpang.
"Kita tidak hanya cek di SPBU lho. Kita juga ngecek dari kilang yang akan dibawa ke sini kita juga cek , termasuk minyak impor yang ditambahkan juga kita cek, juga masuk angkanya. Nah sekarang kita cari biangnya dimana," tegas Evita.
Dalam jangka pendek, lanjut Evita, perubahan angka oktan dari 90 ke 88 tidak menyebabkan kerusakan pompa bahan bakar mobil.
"Kalau perubahan RON terjadi secara jangka panjang itu baru akan merusak mesin. Kalau jangka pendek paling hanya menggelitik kalau RON-nya turun," ungkapnya.
Untuk itu, pemerintah juga akan melakukan pengecekan terhadap bahan bakar yang ada di dalam tangki mobil yang selama ini mengeluhkan mengalami kerusakan.
"Ini juga akan dilakukan, karena di sisi fisik kayanya memang berbeda antara premium di mobil rusak dengan premium yang ada di SPBU," tambahnya.
Saat ditanya soal hasil penelitian laboratorium di Thailand yang menyebutkan kandungan sulfur premium Pertamina melebihi ambang batas, Evita enggan berkomentar.
"Saya belum dapat laporannya,"Β tegasnya.
Seperti diketahui, sejumlah pemilik kendaraan melaporkan kerusakan fuel pump yang diduga akibat penurunan kualitas premium. Dugaan itu muncul karena pemerintah tengah berupaya mengerem penggunaan BBM bersubsidi dan mengalihkannya ke Pertamax.
(epi/ddn)












































Komentar Terbanyak
Begini Efek Negatif Impor Mobil Pick Up 105 Ribu Unit Senilai Rp 24 T dari India
105.000 Mobil Pickup Diimpor dari India, Buat Dipakai Koperasi Merah Putih
Pick Up 4x4 India Jadi Kendaraan Operasional: Biaya Perawatan Mahal-Suku Cadang Terbatas