Hal tersebut diungkapkan oleh pengamat otomotif Suhari Sargo kepada detikOto, Rabu (26/5/2010).
"Sayang mereka enggak pernah naik motor, cuma naik mobil saja. Naik motor paling motor gede," ujar Suhari.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
motor harus diperhatikan.
"Motor saat ini sudah menjadi kebutuhan masyarakat untuk mobilitas mereka sehari-hari, kalau ini terganggu, keadaan sosial ekonomi kita juga akan terganggu," ujarnya.
Suhari malah menantang pemerintah yang menginginkan subsidi BBM untuk motor di cabut agar membatasi dulu fasilitas untuk para pejabatnya.
"Kalau tujuannya untuk mengurangi subsidi, ayo sekalian. Semua kita batasi termasuk fasilitas untuk pejabat, berani enggak mereka," tantang Suhari.
"Tapi hal itu juga sudah ketebak, nanti pembatasan fasilitas bisa dijadikan alasan minimnya kinerja serta bahan keluhan juga yang akhirnya jadi pembenaran untuk melakukan korupsi, jadi kan susah mereka cuma mau ngambil dari rakyat
saja," pungkasnya.
Saat ini baru Anggota Komisi V DPR Yudi Widiana Adia yang menyatakan setuju dengan rencana pelarangan motor memakai BBM bersubsidi atau premium. Rencana itu menurutnya cocok kalau diterapkan di kota-kota besar seperti di Jakarta.
"Mengurangi kesemerawutan. Di kota-kota besar kan pengguna motor banyak juga yang bukan dari kalangan bawah," ujarnya beralasan.
(syu/ddn)












































Komentar Terbanyak
Impor Pickup India Disebut Lebih Murah, Segini Harganya
Ini Dia Wujud Pick Up India yang Sudah Berstiker Koperasi Merah Putih
Meski Ditunda, Pick Up Mahindra Buat Kopdes Sudah Tiba di Priok