Panamera pertama kali diluncurkan pada 20 April 2009 lalu dalam pameran Auto Shanghai di China.
Recall itu seperti dikutip Reuters, Rabu (28/4/2010) tak pelak seperti obat pahit bagi Michael Macht. Pria yang berada di belakang produksi Panamera yang kemudian ditunjuk sebagai Chief Executive Porsche pada Juli lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Soal kualitas sebenarnya Porsche tak perlu dianggap remeh. Dalam beberapa tahun terakhir, Porsche berulang kali menerima penghargaan tertinggi dari lembaga pemeringkat J.D Power.
Namun ternyata itu pun belum cukup, Porsche terpaksa me-recall sekitar 11.300 unit Panamera untuk diperbaiki sabuk pengamannya.
Porsche saat ini sahamnya dimiliki oleh Porsche SE sebanyak 51 persen dan sisanya 49 oleh Volkswagen.
Keputusan recall ini tentunya akan mempengaruhi VW. VW bisa saja mengambil aksi lanjutan, soalnya reputasi VW juga bisa ikut tercoreng.
Pabrik VW di Hanover menyediakan suku cadang bodi Panamera untuk dirakit di pabrik Porsche di Leipzig.
CEO VW Martin Winterkorn beberapa kali mengatakan merek di bawah asuhan VW bakal lebih otonomi dan bebas dari kebijakan induk VW jika merek itu kinerjanya bagus.
Di Indonesia, setidaknya sekitar 21 unit Panamera yang harganya mulai Rp 1,2 miliar harus diperiksa apakah sabuk pengamannya rusak atau tidak.
Meski demikian VP Sales Marketing Porsche Center Jakarta, PT Eurokars Artha Utama Yudy W. Widodo ketika dihubungi detikOto, Rabu (28/4/2010) mengatakan pihaknya tidak menyebut hal itu sebagai recall.
Sebab kata recall itu pantasnya dilontarkan untuk pabrik mobil. Dan PT Eurokars Artha Utama (EUO) sendiri menurut Yudi adalah distributor dengan jumlah yang kecil.
"Itu bukan recall karena kita bukan pabrik dan kita hanya pemasok, jadi kata recall itu berlebihan. Unit kita saja sedikit tidak seperti Avanza," kata Yudi.
Sementara terkait dengan rusaknya seat belt Porsche Panamera yang ada di pasaran Indonesia, Yudi menjelaskan hal ini bukan masalah besar.
Karena dilihat dari kondisi jalanan Indonesia yang padat merayap membuat si pengguna sedan sport bernuansa eksotis tidak bisa memacu sedan tersebut sekencang-kencangnya.
"Itu bukan masalah besar, memangnya pemiliknya mau ngebut dimana? Kalau mau high speed tapi dimana, jadi tidak terlalu bermasalah lah," ungkapnya.
(ddn/ddn)












































Komentar Terbanyak
Heboh Pajak Mobil-motor di Jateng Tiba-tiba Naik Drastis, Begini Penjelasannya
Opsen Mencekik! Muncul Gerakan Setop Bayar Pajak Kendaraan
Mobil Listrik e-Vitara Dianggap Kemahalan, Suzuki Bilang Begini