Bahkan, menurut survey yang dilakukan Menko Perekonomian Bidang Transportasi, dari keseluruhan waktu di jalanan, hanya 40 persen waktu digunakan untuk bergerak.
Sisanya 60 persen digunakan untuk berhenti baik itu terkena macet maupun lampu merah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menanggapi hal tersebut, Deputi Menko Perekonomian bidang Transportasi, Bambang Susantono, mengungkapkan, ada tiga faktor utama yang menyebabkan kemacetan bisa terjadi di Jabodetabek.
Pertama, semua kendaraan bergerak pada waktu yang sama, yaitu pada pagi dan sore hari karena kebanyakan masyarakat beraktivitas pergi ke kantor.
"Hal tersebut tentunya menyebabkan terjadinya penumpukan kendaraan," ujarnya ketika dihubungi detikOto, Rabu (10/3/2010) malam.
Kemudian, ruas jalan yang sama, dan terbatas, sehingga menyebabkan semua kendaraan terarahkan pada lajur yang sama tanpa ada alternatif lain yang leluasa untuk dilewati.
Sedangkan hal terakhir penyebab umum kemacetan Jabodetabek karena angkutan umum yang belum tertata dengan apik, baik dari segi kenyamanan, keamanan, serta rute-rute yang diberikan.
"Angkutan umum yang tidak tertata membuat masyarakat menjadi malas mengaksesnya, dan memilih untuk naik kendaraan pribadi mereka," papar Bambang yang juga Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia ini.
Nah, bila ketiga hal tersebut perlahan-lahan diperbaiki, maka sedikit banyak kemacetan yang terjadi di Jabodetabek bisa terurai. "Tentunya bukan hanya usaha dari pemerintah saja, tapi semua pihak yang terlibat," tutup Bambang. (bgj/ddn)












































Komentar Terbanyak
Awas Kaget! Segini Pajak BYD Atto 1 Bila Tak Lagi Dapat Insentif
Naik Gila-gilaan! Intip Perbandingan Harga BBM RON 98 di RI Vs Negara ASEAN
Nasib! Harga BBM Naik, Mobil Listrik Malah Nggak Gratis Pajak Lagi