Sabtu, 17 Agu 2019 19:06 WIB

Pakai BBM Tidak Sesuai Spek, Kendaraan Bisa Lebih Boros

Ridwan Arifin - detikOto
Kendaraan mengisi bensin di SPBU Foto: Rengga Sancaya Kendaraan mengisi bensin di SPBU Foto: Rengga Sancaya
Jakarta - Guna menekan polusi yang terjadi di Indonesia, pemerintah menerapkan standar Euro4 untuk kendaraan bermotor. Direktur Komite Penghapusan Bensin Bertimbal Ahmad Safrudin atau akrab disapa Puput menjelaskan apa yang terjadi bila kendaraan dipaksa minum BBM yang tidak direkomendasikan.

"Kalau kendaraan bensin perlu spesifikasi bahan bakar tertentu, kendaraan kelas skutik misalnya Scoopy itu kelihatannya kecil, ternyata kendaraan ini karena standar Euro3 sejak Agustus 2013 itu kompresi rasionya 9,2 banding 1," ujar Puput di kantornya, Sarinah, Jakarta Pusat.



Lebih lanjut dalam pemaparannya untuk kendaraan roda empat seperti mobil kecil LCGC atau MPV ukuran 1.500 cc ke bawah memiliki kompresi rasion 10:1. Lalu mobil kelas menengah katakanlah 2.500 cc itu rata-rata 11:1 dan mobil mewah yang konsumsi BBM-nya tinggi 11-12:1.

"Kendaraan yang memiliki kompresi minimal 9:1 dia harus diisi minimal oktan numbernya 91, dan kompresi rasip 10:1 ke atas harus disi RON minimal 95," ujar Puput.

Apa yang terjadi bila kendaraan dengan kompresi di atas tidak menggunakan BBM yang disarankan?

"Jika dipaksakan, maka kendaraan akan ngelitik (knocking)," ujar Puput.

Lebih lanjut ia memaparkan hal ini konsekuensi lain yang harus diterima adalah mobil jadi tidak bertenaga karena bensin dengan RON lebih rendah dari kebutuhan mesinnya akan terbakar oleh kompresi piston di ruang pembakaran mesin (self ignition) tanpa didahului percikan api.



"Jadi prematur pembakarannya, sehingga mengganggu gerakan mesin. Akhirnya kendaraan ini, yang terbakarnya hanya kompresi karena tekanan itu tidak menghasilkan tenaga," jelas Puput.

"Karena banyak yang terbuang, di sisi lain BBM akan lebih boros, dan terjadi pembakaran tidak sempurna berarti hidro karbon akan tinggi, karbon monoksida juga akan tinggi," ujar Puput.

Parahnya kendaraan yang tidak menggunakan bensin yang sesuai spesifikasi bahkan disebut akan mengalami overhaul. Karena terjadi penumpukan kerak atau detonisasi pada ruang bakar.

"Terjadi detonasi sehingga itu akan meretakkan kepala piston komponen utama," jelas Puput.

"Piston ini paling ekstrem pecah kalau tidak lumer karena begitu terjadi self ignition, komponen piston yang merupakan allumunium alloy itu menjadi lumer, sehingga itu akan merusak tentu saja akan merugikan pemilik kendaraan bermotor," kata Puput.

Selain bahan bakar bensin, diesel pun juga dapat mengalami masalah ketika tidak diimbangi penggunaan bahan bakar yang sesuai spesifikasi.

"Kendaraan setelah berstandar Euro 2 apa lagi Euro 4 sudah dilengkapi diesel particulate filter (DPF). Semacam alat untuk menyaring berbagai polutan yang akan keluar dari knalpot kalau di bensin ada konverter katalitik," jelas Puput.

"DPF akan mengalami kerusakan kalau terus menggunakan kadar belerang solar tinggi, kalau Euro 2 maksimum hanya 500 ppm, kalau Euro4 maksimum hanya 50 ppm, kalau Euro5 atau 6 maksimum hanya 10 ppm," pungkasnya.

Simak Video "Penundaan Perpres Mobil Listrik Dinilai Berdampak Polusi dan Rupiah"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com