Kalau Punya Moge Jangan Kayak Gini, Pokoknya Jangan!

ADVERTISEMENT

Kalau Punya Moge Jangan Kayak Gini, Pokoknya Jangan!

Tim detikcom - detikOto
Minggu, 22 Jan 2023 18:10 WIB
Pengendara moge ditilang polisi karena masuk Busway di Cideng, Jakarta Pusat.
Ilustrasi moge melanggar lalu lintas Foto: Dok. TMC Polda Metro
Jakarta -

Punya motor gede (moge) terkadang menjadi satu titik pencapaian ekonomi bagi sebagian kalangan. Tapi tahu nggak sih, ternyata ada siklus euforia ketika sedang memiliki moge, dari kalem sampai berani minta pengecualian?

Pengalaman ini diceritakan oleh Founder dan Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) Jusri Pulubuhu. Pria yang aktif sebagai pengurus salah satu komunitas motor gede dengan member aktif lebih dari 3.000 orang ini memberikan gambaran bagaimana sebuah moge itu punya siklus yang bisa mengubah perilaku pengendara.

"Saya mengenal banyak orang yang tadinya belum naik moge, mereka orang biasa-biasa. Itu (saat naik moge) minggu pertama sopan dan penuh kecemasan. Minggu kedua sudah mulai timbul rasa selected -orang-orang terpilih, eksklusifnya sudah mulai muncul," kata Jusri.

Nah ketika mendekati satu bulan, lanjut Jusri, ada saja perilaku pemoge yang mulai dirasa mengganggu. Mulai dari memodifikasi lampu tambahan. Bahkan tak segan menarik perhatian pengendara lain.

"Minggu ketiga minta pengecualian, mulai dia pasang semuanya; strobo, wellen suaranya besar, minggu keempat dalam waktu sebulan, kalau muterin sound systemnya gede-gede semua orang dengar kalau di lampu merah," kata Yusri saat dihubungi detikcom, belum lama ini.

Lanjut dia, euforia kepemilikan moge biasanya semakin mereda seiring pengalaman. Biasanya pemoge semakin sadar setelah menggunakan moge minimal 5 tahun.

"Dari perilaku terjadi perubahan mulainya machoismenya dan lain-lain, tapi setelah 5-6 tahun, mereka akan balik ke titik semula lagi, sadar. Jadi ada masa euforia, mereka itu dari nol sampai 10 tahun, atau 5 tahun. Pada saat euforia ini kadang-kadang empati mereka ini menurun," kata dia.

Lanjut dia jika pemoge sudah merasa eksklusif, keinginan untuk mendapat hak lebih besar di jalan lebih tinggi.

"Mengapa? karena image yang ada di motor besar, harga mahal, bobot, dimensi, power yang responsif, panas semuanya. Ini akan mengintimidasi atau meng-influence pola pikir kita. Ini yang akan selalu akhirnya kebablasan minta pengecualian, pengawalan," sambungnya lagi.

Jusri berpesan agar pemoge mengedepankan keselamatan ketimbang aspek-aspek lain. Meski begitu, kesan pengguna moge yang identik arogan tidak dapat dibenarkan dan disamaratakan. Sifat pengendara kendaraan bermotor tetap kembali pada pribadi masing-masing.

"Mari kawan-kawan moge di seluruh Indonesia, karena saya juga berinteraksi dengan Anda semua, safety riding seluruh Indonesia motor-motor besar. Jadi tolong pertimbangkan keselamatan ketimbang aspek-aspek lain yang kita perlukan karena primer sekali kebutuhan kita tentang keselamatan, jadikan keselamatan sebagai dasar utama perlakuan yang kita lakukan dengan hobi kita ini," pesan Jusri.



Simak Video "Moge Enggak Boleh Masuk Tol, Ini Alasannya"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/lua)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT