ADVERTISEMENT

Agar Rem Motor Matic Tidak Blong, Ini Tips Mengurangi Kecepatan di Turunan

Luthfi Anshori - detikOto
Senin, 28 Mar 2022 14:33 WIB
Detik-detik pengendara motor matic alami rem blong di Sitinjau Lauik
Foto: Screenshot Youtube Sitinjau Lauik TV. Detik-detik pengendara motor matic alami rem blong di Sitinjau Lauik.
Jakarta -

Jalanan menurun masih menjadi momok bagi pengendara motor matic. Sebabnya, banyak motor matic kecelakaan di jalanan menurun lantaran mengalami penyakit rem blong. Lalu bagaimana cara mencegah motor matic mengalami rem blong di jalanan menurun?

Baru-baru ini terjadi kecelakaan tunggal melibatkan pengendara motor matic di tanjakan/turunan Sitinjau Lauik, Padang Sumatra Barat. Pengendara motor matic tersebut mengalami rem blong, hingga menabrak separator, dan terlempar beberapa meter dari motornya.

Berkaca dari peristiwa itu, kejadian rem motor blong memang kerap dialami motor-motor matic saat melewati jalanan menurun yang cukup panjang atau ekstrem. Sebagai catatan, pengereman di motor matic hanya mengandalkan pengereman di kedua roda, entah itu disc brake (cakram) maupun tromol.

Motor matic tidak memiliki perangkat 'rem tambahan' berupa engine brake seperti di motor bebek maupun motor sport. Jadi ketika pengereman di kedua roda sudah tidak berfungsi maksimal, maka motor matic akan meluncur deras tanpa bisa dikurangi lajunya sedikitpun.

Seperti pernah diungkapkan Instruktur Safety Driving Astra Honda Motor (AHM), Hendrik Ferianto, penyebab rem blong, khususnya rem depan, utamanya karena rem terlalu lama ditekan.

"Kalau kita ngerem itu kan akan panas kalau kita pakai sistem hidrolik panas dari kampas rem itu akan mengurangi viskositas dari olinya, sehingga jadi cair, makanya kalau kita ngerem depan pakai rem cakram kok lama-lama ngeplos, karena remnya terlalu lama ditekan," ungkap Hendrik.

Lanjut Hendrik menjelaskan, banyak pengendara motor matic ketika melintas di turunan secara tidak sadar menggunakan kedua rem secara bersamaan.

"Problemnya banyak pengendara matic itu remnya dipakai semua, depan belakang dipakai, (padahal) dia harus gantian karena nggak ada engine break," sambung Hendrik.

"Tipsnya bisa menggunakan sistem rem buka tutup, kalau untuk motor matic bisa gantian lepas dan belakang, ini untuk memberikan nafas pada masing-masing rem," sarannya.

Selain itu, kata Hendrik, ketika daya cengkeram rem dirasa sudah tidak menggigit ada baiknya pengendara motor berhenti sejenak, untuk mengembalikan temperatur dan viskositas oli pada rem.

"Kalau dirasakan udah ngeblong, sebaiknya berhenti dulu, beri waktu sejenak untuk temperatur di rem turun supaya viskositas oli bisa kembali normal," tuturnya.

Demikian pula pada rem belakang, jika sudah di turunan maksimalkan penggunaan rem belakang dan dibantu dengan rem depan secara bertahap. Soalnya rem blong bisa terjadi karena pengoperasian rem berlebih.

"Kalau rem tromol bagaimana? Juga sama, jadi kalau tromol kita injak, dia lama-lama, kan besi panas sama besi panas kalau nempel itu licin, makanya daya cengkram rem belakang lama-lama dia akan turun kalau dia terlalu panas, jadi sistemnya sama gantian," sambungnya lagi.

"Kalau di turunan paling aman sebenarnya pakai rem belakang, kalau rem depan ini ada potensi roda belakang bisa keangkat, di motor off road pun juga sama, rem belakang, caranya pakai rem belakang lepas tambah sedikit rem depan, kita mainkan remnya aja," tukasnya.

[Gambas:Youtube]



(lua/rgr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT