Pelatih Safety Riding & Safety Driving Ditlantas Polda Metro Jaya, Aiptu Bambang Margono mengatakan, masih banyak yang belum menguasai teknik berkendara motor yang benar, terutama untuk pengguna motor besar, yang hanya berkisar 25 persen dari total yang menguasai teknik berkendara hanya berkisar 25 persen. Terutama untuk pengguna motor besar.
"Rata-rata yang dari kita ini, teknis penguasaannya itu masih 25 persen untuk moge (motor gede),karena mereka bukan belajar speed rendah, tapi belajar di speed tinggi, pada saat speed tinggi itu mereka belum menguasai teknis pengereman, perbedaan pengereman depan dan belakang beda sekali," ujarnya dalam sebuah acara di Jakarta.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau di motor besar, teknik kendaraan yang mereka belum lakukan. Belum belajar, tentang namanya teknis, teknis kendaraan yang dia pakai, itu yang dia asumsikan sama dengan kendaraan yang dia pakai sehari-hari, pakai motor kecil," tutur Bambang.
Sedangkan untuk bekal kedua yaitu mental, lanjut Bambang mengatakan, jika dari 100 persen yang ditargetkan, mental para pengendara motor di Indonesia hanya berkisar 30 persen. Mental yang dimaksud Bambang adalah sikap toleransi antar sesama pengguna jalan.
"Kadang rekan-rekan di jalan, penggunaan jalannya itu kurang ada sikap, silakan anda lewat duluan, mempersilakan yang lain. Kadang kan seperti orang mau keluar dari gang rumah aja butuh waktu keluar, padahal jarak motor orang masih 15 meter, kita sudah ada di ujung gang duluan dia masih nyerobot, akhirnya disitu sering kecelakaan," pungkasnya.
Selain itu dalam mengendarai kendaraan roda dua, ada juga faktor non teknik yang harus dikuasai. Mulai dari refleks, dan keyakinan atau feeling sampai juga berpikir. "Kadang manusia, belajar membenahi mental (berkendara)-nya itu masih menggunakan cara yang lama. Jadi tidak boleh refleks tidak pakai feeling, yang dianjurkan kita pakai otak," ujarnya.
Hal tersebut bukan tanpa alasan Bambang mengatakannya, karena menurutnya, jika menggunakan refleks ataupun feeling, keselamatan kita saat berkendara di jalan akan 50:50.
"Antara gagal dan sukses. tapi kalau pakai otak, akal pikiran kita yang sehat, logika, ini tidak masuk, ya jangan kita lakukan dan lainnya. Kalau berharap dengan reflek dan feeling itu yang terjadi, si pengendara merasa, oh bisa ni, ternyata di depan kita kendaraan lainnya lebih kenceng, akhirnya tidak masuk, tabrakan," pungkasnya.
(khi/ddn)











































Komentar Terbanyak
Ramai Aksi Warga Perbaiki Sendiri Jalanan, Padahal Sudah Bayar Pajak Kendaraan
QR Code Pertalite Kendaraan Nunggak Pajak Disarankan Dihapus
Raja Mobil Listrik di Indonesia Semester Pertama 2026