'Turun Kasta' Gegara Harga Pertamax Naik, Ini Dampaknya

'Turun Kasta' Gegara Harga Pertamax Naik, Ini Dampaknya

Dina Rayanti - detikOto
Kamis, 11 Jun 2026 12:17 WIB
Petugas SPBU melakukan pengisian BBM ke kendaraan bermotor di SPBU COCO Tebet, Jakarta Selatan, Jumat (16/12/2016).  Terhitung hari ini harga Pertalite naik dari 6.900 per liter menjadi Rp 7.050 per liter, harga Pertamax 92 naik dari Rp 7.600 per lit
BBM Pertamax. Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Kenaikan harga Pertamax membuka peluang pengendara 'turun kasta'. Lalu apa dampaknya kalau 'turun kasta' menggunakan BBM dengan kandungan RON lebih rendah?

Pertamax naik harga. Per 10 Juni 2026, harga Pertamax Rp 16.250 per liter. Itu artinya BBM RON 92 dari Pertamina itu naik Rp 3.950 per liter dari sebelumnya Rp 12.300 per liter. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini tentu membuka peluang para pengguna Pertamax beralih menggunakan BBM dengan harga lebih murah seperti Pertalite. Seperti diketahui bersama, harga Pertalite disubsidi pemerintah dan masih dijual Rp 10.000 per liternya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bagi kamu yang punya mobil ataupun motor dengan spesifikasi bahan bakar minimal RON 92, jangan sampai tergiur untuk 'turun kasta' lantaran perbedaan harga yang sangat signifikan. Sebab, menggunakan BBM di bawah spesifikasi yang dianjurkan bisa berdampak pada performa mesin.

Dalam catatan detikOto, pakar kendaraan mesin bakar dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Iman Kartolaksono Reksowardojo pernah mengungkap dampak buruk dari penggunaan BBM yang tak sesuai dengan spesifikasi. Efek buruk penggunaan BBM dengan oktan rendah mempengaruhi kendaraan hingga lingkungan.

ADVERTISEMENT

"BBM RON rendah bisa menyebabkan knocking atau mengelitik. Knocking harus dihindari, karena dalam kasus ekstrem bisa merusak mesin, membuat piston berlubang, serta menurunkan efisiensi dan menaikkan emisi gas buang," ucap Iman beberapa waktu lalu.

Dijelaskan, secara termodinamika knocking terjadi karena BBM RON rendah tidak tahan terhadap tekanan atau temperatur tinggi. Alhasil, BBM bisa terbakar sebelum dipantik oleh busi.

Menurut Iman kerugian menggunakan BBM RON rendah bisa terjadi meski kendaraan dilengkapi dengan artificial intelligence (AI). Meski pemrograman AI akan membuat mesin lebih fleksibel terhadap kualitas BBM yang dikonsumsi, BBM oktan rendah merugikan terutama dalam jangka panjang.

Karenanya, pemilik kendaraan harus menggunakan BBM sesuai kebutuhan mesin. Kamu bisa cek buku manual kendaraan mengenai BBM yang direkomendasikan oleh pabrikan.

Salah satu contohnya untuk mobil LCGC seperti Toyota Agya. Dilihat detikOto dalam buku panduan manual Agya, mobil LCGC itu dianjurkan menggunakan BBM RON 92. Lebih lanjut dijelaskan, menggunakan bahan bakar yang tak tepat dapat merusak mesin.

"Jangan menggunakan bahan bakar yang tidak tepat. Jika bahan bakar yang digunakan tidak tepat mesin akan rusak," begitu penjelasannya.




(dry/rgr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads