ADVERTISEMENT

Pelajaran Penting dari Kecelakaan Maut di Cipali, Jangan Betah di Lajur Kanan!

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Selasa, 05 Jul 2022 06:33 WIB
Kecelakaan maut di Tol Cipali Kilometer 93, Kalijati, Subang.
Kecelakaan maut di Tol Cipali Kilometer 93, Kalijati, Subang. (Foto: istimewa/Polres Subang)
Jakarta -

Kecelakaan maut terjadi lagi di Tol Cipali. Truk muatan ayam bertabrakan dengan bus Primajasa di KM 93 Tol Cipali. Jangan sampai terulang, ini pelajaran pentingnya.

Dalam keterangannya, Kepala Divisi Operasi Astra Tol Cipali Sri Mulyo mengatakan kecelakaan itu melibatkan truk Mitsubishi Coltdiesel nopol B-9883 -VDA dan bus Primajasa bernopol B-7291-FGA.

Peristiwa itu berawal saat truk dari arah Cirebon menuju Jakarta terperosok masuk ke median dan tertahan di wire rope (pagar pembatas yang terbuat dari sling baja) jalur A (Jakarta-Cirebon). Saat itu mobil truk mengalami kecelakaan tunggal, diduga karena sopir kehilangan kendali yang dalam kecepatan tinggi. Secara tiba-tiba, kendaraan truk itu ditabrak sebuah bus Primajasa dari arah berlawanan.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus Training Director Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana menyoroti penggunaan lajur kanan di jalan tol yang diduga dilakukan bus saat menabrak truk muatan ayam yang tertahan di wire rope. Menurutnya, betah di lajur kanan paling berbahaya.

"Selain untuk mendahului pasti kecepatannya lebih tinggi (di lajur kanan). Jadi biasakan berada di lajur kanan hanya untuk mendahului dan tidak lebih dari 2 menit. Artinya kalau mendahuluinya susah karena selisih kecepatan yang sedikit maka sebaiknya urungkan," ucap Sony kepada detikcom, Senin (4/7/2022).

Selain itu, pelajaran penting lainnya menurut Sony adalah menjaga jarak dan kecepatan. Menurutnya, hal yang paling ulit adalah menghindari sebuah benturan dari kendaraan yang hilang kontrol.

"Jadi pastikan jaga jarak, ruang dan waktu untuk mengantisipasi kecelakaan," ucapnya.

Dia bilang, banyak faktor ketika berkendara. Agar tak terjadi kecelakaan serupa, perhatikan faktor lingkungan seperti jalan bergelombang, angin samping dan blind spot. Selain itu, faktor kendaraan seperti bobot, dimensi, ban, suspensi serta faktor pengemudi seperti kelelahan, emosi, mental juga harus menjadi perhatian.

"Nah hal tersebut di atas itu berubah-ubah setiap detiknya. Jadi ada tiga hal yang bisa menyelamatkan. Patuh rambu-rambu kecepatan, akal yang sehat dan etika," ucapnya.



Simak Video "Prajurit TNI AL dan Istri Korban Truk Pertamina Dimakamkan Secara Militer"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT