Tambal Ban Tubeless ala Bengkel Pinggir Jalan Bisa Bikin Bahaya

Luthfi Anshori - detikOto
Kamis, 23 Des 2021 14:18 WIB
Ilustrasi Ban Mobil
Ilustrasi ban mobil. Foto: Dok. Shutterstock
Jakarta -

Ban tubeless memiliki keunggulan tersendiri karena tidak gampang bocor meski tertusuk benda tajam. Tapi ketika ban tubeless mengalami bocor, perlu diketahui metode atau cara menambal yang benar. Lalu bagaimana dengan metode tambal ban tubeless ala karet cacing yang biasanya ada di bengkel-bengkel pinggir jalan?

Customer Engineering Support Michelin Indonesia, Mochammad Fachrul Rozi, mengatakan pengendara wajib memeriksa tekanan angin, juga kembangan ban secara rutin dan melakukan pemeriksaan secara menyeluruh ketika akan melakukan perjalanan jarak jauh.

Temuan Fachrul Rozi dalam kegiatan gelar operasi keselamatan berkendara Hutama Karya bersama Michelin di KM 215 Tol Trans Sumatra (20-21/12/2021), sebagian besar pengendara telah memiliki pengetahuan yang cukup baik tentang tekanan angin ideal serta ketebalan kembangan ban.

"Tapi kami juga menemukan beberapa kondisi ban yang cukup membahayakan. Misalnya, ban sudah retak-retak di beberapa bagian karena umurnya sudah melebihi umur pakai semestinya namun tetap digunakan. Pada kondisi seperti ini kami sarankan kepada pengendara bahwa ban wajib diganti karena berbahaya," kata Fachrul Rozi dalam keterangan resminya.

Selain itu, Fachrul Rozi juga menemukan kasus ban bocor akibat metode penambalan ban tubeless yang kurang benar. Hal itu bisa membahayakan ketika mobil dikendarai di jalur bebas hambatan dengan kecepatan tinggi.

"Ada juga temuan di mana ban bocor dan ditambal dengan tambalan cacing sehingga tekanan ban berkurang hingga 15 psi tanpa disadari oleh pengendara. Ini juga berbahaya, dan kami sarankan agar ditambal dengan proses yang benar atau dilakukan ganti ban," ujar Rozi.

Mengenai cara menambal ban tubeless yang aman, Country Manager Indonesia and Philippines (Tech International South East Asia Ltd), Unggul Kusumanto, pernah menjelaskannya kepada detikOto.

Menurut Unggul, metode tambal ban dari bagian luar atau disebut juga metode cacing itu hanya disarankan untuk sementara saja. Dan tidak untuk dipakai dalam jangka lama.

"Harus dari dalam. Kalau tambal tubeless dari luar saya merekomendasikannya hanya untuk tambalan sementara untuk darurat. Untuk tambalan permanen harus dari dalam," kata Unggul.

Menurut Unggul, kekurangan dari metode menambal ban dari luar adalah, bekas lubang tidak menutup sempurna. "Sehingga kadang-kadang bisa lepas tambalannya atau dalam kurun waktu tertentu ban bisa bocor halus," jelasnya lagi.

Oleh sebab itu, pemilik kendaraan bermotor yang mengalami ban bocor, disarankan untuk menggunakan metode tambal ban dari dalam untuk proses perbaikan. Cara ini disebut Uni-Seal Repairs atau tambal payung.

Unggul menjelaskan, kekurangan dari metode menambal ban dari luar adalah, bekas lubang tidak menutup sempurna. "Sehingga kadang-kadang bisa lepas tambalannya atau dalam kurun waktu tertentu ban bisa bocor halus," jelasnya lagi.

Oleh sebab itu, pemilik kendaraan bermotor yang mengalami ban bocor, disarankan untuk menggunakan metode tambal ban dari dalam untuk proses perbaikan. Cara ini disebut Uni-Seal Repairs atau tambal payung.

Salah satu perusahaan yang memperkenalkan metode tambal ban ini adalah Tech Tire Repairs (TTR) yang berbasis di Amerika Serikat. Jika melihat proses tambal ban Uni-Seal Repairs, prosedurnya memang sedikit rumit, sebab harus melepas roda dan memisahkan ban dengan pelek.

(lua/din)