Pengemudi Arogan Bikin Stres Berkendara, Lakukan Ini Jika Ketemu di Jalan

Tim detikcom - detikOto
Selasa, 07 Sep 2021 18:14 WIB
Kemacetan terlihat di Jalan MT Haryono, Jakarta. Meski PPKM di Ibu Kota kembali diperpanjang, kemacetan kembali terlihat di jalan-jalan Jakarta. Ini potretnya.
Jakarta menjadi salah satu kota yang bikin stres untuk berkendara. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Kemacetan lalu lintas di Jakarta menjadi pemicu stres. Bahkan, Jakarta dinilai sebagai salah satu kota yang bikin stres saat berkendara. Menurut studi Hiyacar, Jakarta menempati posisi ketiga di dunia sebagai kota yang paling bikin stres untuk berkendara.

Selain kemacetan, salah satu pemicu stres di jalanan Jakarta adalah pengendara lain yang memancing emosi, ada yang bersifat arogan sampai tak tahu aturan. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh perusahaan asuransi Inggris, Churchill, sesama pengendara di jalan raya menjadi sumber pemicu stres terbesar. Tailgating atau membuntuti kendaraan dengan jarak yang terlalu dekat menjadi pemicu stres paling umum.

Tiga dari 10 (30%) responden mengatakan mereka terpancing emosinya ketika pengendara lain mengikuti dengan jarak yang terlalu dekat. Sementara 29 persen mengatakan, pengemudi yang bersikap kasar di jalan merupakan penyebab stres saat berkendara.

Apa yang harus dilakukan kalau bertemu pengendara yang memancing emosi?

"Saran terbaiknya adalah menjauh. Karena kalau tidak, kita akan terpengaruh," jawab Director Training Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, kepada detikcom, Selasa (7/9/2021).

Menurut Sony, tingkat stres yang tinggi pasti berpotensi besar terhadap kecelakaan. Sebab, pengemudi yang stres menjadi overthinking.

"Dalam kondisi tersebut pengemudi jadi lelah dan agresif. Ini yang harus dikendalikan oleh pengemudi. Karena mengemudi tidak hanya mengontrol kendaraan tapi juga emosi," katanya.

Sony melanjutkan, stres adalah bagian dari emosi yang bisa dikendalikan. Caranya, cari akar masalahnya terlebih dahulu untuk membagi atau mengkotak-kotakan agar dapat di-manage dengan baik. Selanjutnya dikurangi atau dihilangkan secara bertahap.

"Fokus terhadap tanggung jawab keselamatan, beraktivitas di tempat umum harus dilakukan dan digunakan bersama-sama sehingga pikirkan dua kali sebelum melangkah/mengambil sikap," katanya.

Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW) Edison Siahaan mengatakan, setidaknya ada ada beberapa poin yang memicu stres para pengendara atau pengguna jalan raya.

Yang pertama, kata Edison, populasi kendaraan yang tidak terkontrol. Hal itu membuat ruas dan panjang jalan tidak mampu menampung sehingga menimbulkan kemacetan yang berujung memicu stres bagi pengendara.

"Kedua, kesadaran tertib berlalu lintas masyarakat masih sangat rendah," kata Edison.

Ketiga, lanjut Edison, penegakan hukum masih lemah. Dan keempat, kebijakan tidak efektif bahkan cenderung memicu ketidakpastian.

"Lalu lintas adalah bentuk pertanggungjawaban pemerintah atas kepercayaan yang diberikan masyarakat untuk memungut pajak dan mengembalikannya dalam bentuk pembangunan sekaligus pelayanan," ucapnya.



Simak Video "Jakarta Jadi Kota yang Bikin Stres Berkendara, Ini 4 Pemicunya"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)