Awas Kantong Jebol, Nggak Usah Nekat Terobos Banjir

Tim detikcom - detikOto
Senin, 08 Feb 2021 08:09 WIB
Banjir merendam sejumlah jalan di Jakarta. Agar tetap dapat beraktivitas para pengendara motor pun menerobos jalur pedestrian di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta.
Risiko mobil menerobos banjir bikin kantong jebol. Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Musim penghujan yang terjadi membuat sejumlah wilayah di Indonesia mengalami banjir. Banjir juga menggenang jalanan. Bagi pengendara, jika tidak ingin kantong jebol sebaiknya urungkan niat menerobos banjir.

Pengendara yang nekat menerobos banjir memiliki banyak risiko. Baik risiko keselamatan berkendara maupun risiko kerusakan kendaraan.

Head Dealer Technical Support PT Toyota-Astra Motor (TAM) Didi Ahadi mengatakan, risiko terbesar mobil menerobos banjir adalah water hammer. Kondisi ini adalah ketika air masuk ke ruang bakar dan membuat mesin jebol. Didi menjelaskan, air tidak bisa terkompresi oleh mesin sehingga yang terjadi setang piston bengkok bahkan bisa menyebabkan silinder mesin pecah.

"Karena air kan nggak bisa dikompresi. Pada saat piston naik dan dipaksa, sehingga bengkok setang piston/conrod-nya. Awalnya bengkok dulu. Lama-kelamaan (setang piston) jadi patah," kata Didi kepada detikOto belum lama ini.

Saat air banjir tersedot masuk ke ruang bakar, gejala water hammer mungkin tidak langsung terjadi. Ada kondisi mobil mengalami water hammer beberapa waktu setelah menerobos banjir. Gejala awalnya adalah mesin terasa kasar.

"Awalnya mesin kasar. Banyak kejadian dia banjirnya kapan, tiba-tiba jebolnya sekarang, bisa kejadian. Awalnya mesinnya kasar, karena dipaksa lama-lama mesinnya jebol," ujar Didi.

Jika mesin dipaksa saat ada air masuk ke ruang bakar yang tidak bisa dikompresi, risiko terburuknya adalah mesin jebol hingga blok silinder pecah. Penyebabnya, karena setang piston bengkok, patahan setang piston itu menonjok dinding silinder sehingga silinder mesin pecah.

Kalau sudah seperti itu, perbaikannya tentunya tak murah. Mobil harus turun mesin dan perlu diganti mesin baru jika ingin tetap dipakai. Selain mahal, perbaikannya pun membutuhkan waktu lama.

"Karena ganti blok silinder. Kan harus ketok nomor tuh. Prosesnya agak lama karena harus izin polisi segala macam, nggak sembarangan orang bisa ukir nomor mesin," sebut Didi.

Risiko kendaraan menerobos banjir bukan cuma soal kerusakan mesin. Saat menerobos banjir juga ada risiko yang mengancam keselamatan pengendara.

Menurut praktisi keselamatan berkendara yang juga Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana, mobil tidak didesain untuk berjalan di air. Risikonya, menurut Sony, arus yang deras pada saat banjir bisa menyeret mobil. Dalam beberapa kondisi, bahkan mobil bisa terbalik akibat arus banjir yang deras.

"Kemungkinan terjebak di tengah-tengah banjir dan mempersulit proses evakuasi," sebutnya.



Simak Video "Sudah Empat Kali Banjir Rendam Rumah Warga di Pamanukan Subang"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)