Cegah Kecelakaan Beruntun, Ingat Aturan 4 Detik Jarak Aman dalam Tol

Ridwan Arifin - detikOto
Rabu, 06 Jan 2021 09:04 WIB
TKP Kecelakaan beruntun di Tol Semarang-Solo KM 428, Kabupaten Semarang, Senin (4/1/2021).
Foto: dok Polres Semarang/ TKP kecelakaan karambol di Tol Semarang-Solo KM 428, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/1) sore.
Jakarta -

Eks personel Trio Macan, Yuselly Agus Stevy atau Chacha Sherly meninggal setelah menjadi salah seorang korban kecelakaan karambol di Tol Semarang-Solo KM 428, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Senin (4/1) sore. Polisi menyebut kecelakaan karambol tersebut melibatkan enam kendaraan. Bagaimana mencegah potensi kecelakaan beruntun terjadi?

Praktisi keselamatan berkendara mengatakan menjaga jarak aman antar kendaraan di jalan tol bisa mengurangi potensi terlibat kecelakaan beruntun.

"Prinsip jaga jarak itu sudah paling benar, agar mempunyai ruang untuk mengantisipasi atau menghindar," buka Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI), Sony Susmana saat dihubungi detikcom beberapa waktu yang lalu.

Sony melanjutkan jarak aman merupakan ruang dan waktu yang dibutuhkan pengemudi untuk menganalisa kemudian mengantisipasi potensi berbahaya. Saat berada di tol, mengatur jarak aman menggunakan prinsip empat detik.

Dalam kurun waktu empat detik itu ditentukan berdasarkan kemampuan manusia merespons suatu hal. Dengan maksud, pengemudi memiliki waktu yang cukup untuk mengantisipasi adanya dari bahaya dari lingkungan sekitar. Terutama dari arah depan, ketika mobil melakukan pengereman mendadak.

Asumsi dari perhitungan ini berdasarkan respons manusia yang membutuhkan 1,5 hingga 2 detik plus reaksi mekanik pengereman yang membutuhkan waktu antara 0,5 hingga 1 detik.

"Satu detik gaya momentum kendaraan, satu detik reaksi rem dan jalan, satu detik mewakili reaksi pengemudi (kaget, memindahkan telapak kaki dari pedal gas ke rem), satu detik safety factor," urai Sonny.

Sony menjelaskan empat detik yang dimaksud dihitung dari kendaraan yang dikemudikan dengan kendaraan lain di depan. Pengemudi bisa mencari objek statis seperti pohon atau tiang untuk dijadikan patokan menghitung.

Misalnya, bila mobil di depan sudah melewati satu titik, ditandai dengan tiang listrik, maka empat detik kemudian mobil yang kita kemudikan melewati titik yang sama, artinya sudah memiliki jarak aman dengan mobil di depan.

"Nggak mau repot, bisa berdasarkan jumlah tiang listrik (tol). Misal jarak tiang listrik 50 meter, berarti maintain kecepatan di 80 - 100 km/jam dengan menjaga jarak mobil di depannya berpatokan 3 tiang listrik (jaraknya sekitar 100 meter)," jelas Sony berdasarkan pengalamannya.

Faktor lain yang tidak kalah penting tidak hanya bicara mengenai kesiapan kendaraan, melainkan juga kondisi fisik pengemudi.

"Selalu jaga kondisi tubuh tetap fit, dengan kondisi fit, mata dapat selalu bergerak melihat sekeliling kendaraan baik dari sisi depan, samping maupun belakang untuk menghindari tabrakan beruntun,"

"Otak dapat cepat memerintahkan tangan dan kaki untuk menghindari kecelakaan. Reflek yg dilakukan oleh tangan dan kaki yang fit, sesuai dengan perintah yang positif, sehingga tidak gagal reaksi," jelasnya.

Selain soal jarak aman, kondisi mobil, dan pengemudi di jalan tol. Hal lain yang juga mesti memahami batas kecepatan yang sudah ditentukan. Sebab semakin tinggi kecepatan maka semakin sedikit ruang dan waktu pengemudi untuk merespons kejadian berbahaya.

"Hitungan jarak aman berdasarkan detik itu flexible, tergantung kecepatan. Kalau kecepatan rendah - lebih rapet, kalau kecepatan tinggi - lebih lebar jaraknya," kata Sony.

Namun perlu diingat, batas kecepatan di jalan tol paling rendah 60 km per jam dan tertinggi 100 km per jam. Hal itu juga tertuang dalam Peraturan Menteri Perhubungan Nomor 111 Tahun 2015 tentang Tata Cara Penetapan Batas Kendaraan.



Simak Video "5 Ide yang Bakal Bikin Liburanmu #DiRumahAja Makin Seru"
[Gambas:Video 20detik]
(riar/din)