Begini Cara Stop and Go di Tanjakan Pakai Mobil Turbo CVT

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Jumat, 11 Des 2020 10:23 WIB
DFSK Glory 580
Tips stop and go di tanjakan dengan mobil CVT. Foto: Rangga Rahadiansyah
Jakarta -

Transmisi continuously variable transmission (CVT) menjadi teknologi yang sekarang banyak dipakai di mobil-mobil terkini. Tapi disebutkan, memperlakukan mobil CVT tidak bisa disamakan dengan transmisi manual atau transmisi otomatis konvensional yang memiliki gir.

Menurut Jusri Pulubuhu Founder dan Instructor Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menaklukkan tanjakan dengan kondisi stop and go menggunakan mobil CVT pun ada triknya. Misalnya, Anda bisa memanfaatkan fitur triptonic sport mode dan mainkan mode tranmsisi manual.

"Saya sarankan pakai triptonic position, Anda pindahkan ke triptonic sport mode, Anda masukin (gear) 1. Kalau umpanya agak panjang terus bisa (naik ke gear) dua. Tapi kalau kira-kira mau berhenti lagi (pakai gear) 1 saja," kata Jusri di Jakarta, Kamis (10/12/2020).

Jika berhenti di tanjakan, usahakan berhenti menggunakan parking brake. Jusri tidak menyarankan hanya mengandalkan rem kaki apalagi tanpa menginjak rem hanya menggantungkan gas.

"Kalau digantung untuk CVT atau matik, itu oli transmisi panas, sehingga akan loss. Jadi usahakan setiap berhenti, parking brake, bukan di D atau P position, tetapi di gear N, terus parking brake aktif. Bukan di D atau di P, sama aja itu setengah kopling atau dipanteng. Pertama taruh parking brake aktif, kemudian pindahkan di N," saran Jusri.

Ketika mau jalan, masukkan ke mode triptonik gir 1. Masih menginjak rem, lepas parking brake. Beberapa mobil yang sudah memiliki fitur hill start assist akan menahan mobil tidak mundur selama tiga dertik.

"Jangan tunggu tiga detik. Karena kalau kelewat 3 detik, mobilnya akan meluncur, hilang momentum. Jadi ketika hill hold control masih aktif, itu kaki kita sudah di gas," sebutnya.

Untuk mobil CVT dengan mesin turbo, Jusri menyarankan tidak perlu digas sampai boost turbonya aktif. Mainkan rpm sebelum turbonya aktif. "Jadi kalau kita main di bawah situ waktu take off-nya, turbonya belum activated. Artinya kalau dia 1.500 cc, maka dia (mengandalkan) 1.500 cc mesin konvensional (karena turbo belum aktif)," ujar Jusri.

DFSK Glory 580DFSK Glory 580 Foto: Rangga Rahadiansyah

"Dengan 1.200 rpm tanpa turbo (menggunakan mobil DFSK Glory 580 1.5 Turbo CVT) dia masih naik dengan saya tahan gas sedikit," sambungnya.

Jusri mengatakan, jangan membiarkan hill start assist atau hill hold control lepas baru digas. Kondisi itu biasanya membuat pengemudi panik sehingga mobil digas dengan rpm tinggi.

"Ketika situasi tersebut biasanya di mobil manual begitu rpm tinggi ketika digas dia akan spin. Tapi mobil yang ada traction control dia nggak spin, dia nggak rilis, hilang tenaga," ucapnya.

"Padahal saat bejek gas itu ada keselahan pengemudi yang mungkin traction controlnya masih aktif. Sehingga komputer membaca gas yang besar, traction control bekerja, nggak rilis dia. Tujuan traction control terpasang kan supaya tidak ada spin, tidak ada akselerasi mendadak, sehingga mobil nyaman."

"Usahakan mantain di atas 1.200 rpm. Kalau kurang tambah, jadi nggak usah buru-buru sampai ke 1.800 rpm (saat turbonya aktif), karena anda tahu ini boost dari turbonya di 1.800 anda tarik ke 2.000 rpm, justru takutnya kalau traction control membaca hentakan ini bisa membuat ini spin, dia akan rilis, dan Anda akan mundur," pungkas Jusri.



Simak Video "Mantap! Road Trip Jakarta-Bali with Corolla Cross Hybrid"
[Gambas:Video 20detik]
(rgr/din)