Ditemui wartawan, Vice President PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Ernando Demily mengaku tidak senang akan hal tersebut. Namun selaku produsen, ia tidak dapat berbuat apa-apa kecuali berdialog dengan pemerintah yang lebih memiliki kekuatan di sana.
"Kalau berbicara overload sebenarnya yang dirugikan banyak pihak. Yang pasti pemerintahan terkait jalanan yang rusak terus dan kita (produsennya) karena kendaraan kita diperkosa. Pengusaha pun otomatis akan keluarkan biaya tambahan servis yang lebih sering," paparnya di Jakarta, Senin (5/2/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah dimungkinkan bila Isuzu selaku produsen dapat membuat peraturan tersendiri terkait hal ini, seperti menghanguskan guarantee atau garansi mobil?
"Bila hanya Isuzu yang melakukan itu ya sama saja (karena pasti konsumen akan berpindah ke produsen mobil lain). Tapi bila kita lakukan bersama-sama, nanti dibilang kartel. Kan tidak boleh tuh. Namun kita tidak happy dengan overloading ini," tutup Ernando. (ruk/lth)











































Komentar Terbanyak
Heboh Konten Kreator Rekam Usher GIIAS, Diminta Take Down Ngarep Ganti Rugi
Harga Honda Super One Diumumkan: Rp 438 Juta
Miris! Segini Banyak Pengendara yang Akali Pelat Nomor Demi Hindari ETLE