Kamis, 17 Jan 2019 10:06 WIB

Ghosn Menerima Perlakuan Kasar Selama di Penjara

Rizki Pratama - detikOto
Carlos Ghosn. Foto: Renault Carlos Ghosn. Foto: Renault
Tokyo - Istri Carlos Ghosn, Carole Ghosn mendesak Human Rights Watch yang berbasis di New York untuk menanggapi 'perlakuan kasar' selama penahanan suaminya di penjara Jepang. Surat permintaan istri Ghosn dilihat sendiri oleh Reuters pada hari Minggu (14/1/2019).

Dalam surat berisi sembilan halaman kepada Direktur kelompok hak asasi Jepang, Kanae Doi, Carole Ghosn memintanya untuk menyoroti perlakuan kasar suaminya dan ketidakadilan terkait hak asasi manusia yang ditimpakan kepadanya oleh sistem peradilan Jepang.

Pemerintah Jepang telah menolak permintaan untuk mengakhiri penahanannya yang telah berlangsung sejak 19 November. Pengacara Ghosn mengatakan mungkin akan membutuhkan waktu lebih dari enam bulan untuk kasusnya diadili.



Nissan sendiri mengatakan tidak dalam posisi untuk mengomentari cara kerja sistem peradilan, atau keputusan apa pun oleh kejaksaan Tokyo.

Pejabat Human Rights Watch tidak dapat dihubungi untuk mengomentari surat itu, tetapi direktur mereka di Asia, Brad Adams mengatakan dalam sebuah editorial pada hari Kamis bahwa kasus Ghosn "telah menyinari" sistem peradilan "sandera" yang telah lama berlaku di Jepang.

"Ghosn belum, dan seharusnya tidak, menerima perlakuan seperti itu. Tetapi jika Jepang ingin memenuhi reputasinya sebagai salah satu negara demokrasi paling maju di dunia, negara itu perlu memodernisasi sistem peradilan pidananya," tulis Adams dalam tajuk rencana yang muncul dalam edisi online The Diplomat.



"Terlepas dari tuduhan serius terhadapnya, atau kontroversi seputar masa jabatannya di Nissan, tidak seorang pun boleh dilanggar haknya dengan cara ini saat menghadapi tuntutan pidana."

Mantan eksekutif Nissan itu ditahan di sel yang tak ada penghangat ruangan seluas 6,97 meter persegi. Istri Ghosn mengatakan melalui surat, suaminya tidak diperbolehkan mengkonsumsi obat hariannya. Ghosn telah kehilangan 7 kg berat badan sejak ditahan dan hanya makan nasi dan gandum.



"Jaksa penuntut di Jepang sering menggunakan cara ini untuk memperoleh pengakuan dari tahanannya," tambah Carole dalam surat itu.

"Selama berjam-jam setiap hari, para jaksa mengintrogasinya, menghardiknya, menceramahinya dan mencaci makinya, tanpa kehadiran pengacaranya dalam upaya untuk mengekstraksi pengakuan," lanjut Carol

"Tidak seorang pun harus dipaksa untuk menanggung apa yang dihadapi suami saya setiap hari, khususnya di negara maju seperti Jepang, ekonomi terbesar ketiga di dunia," tutup Carole. (rip/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com