Jumat, 01 Jun 2018 17:40 WIB

Tak Selamanya Jadi Instruktur Mengemudi yang Diakui Jerman Enak

Khairul Imam Ghozali - detikOto
Gerry Nasution, pebalap dan instruktur mengemudi Indonesia yang sudah diakui Jerman. Foto: Khairul Imam Ghozali Gerry Nasution, pebalap dan instruktur mengemudi Indonesia yang sudah diakui Jerman. Foto: Khairul Imam Ghozali
Jakarta - Jadi instruktur atau pelatih mengemudi tentu punya banyak kelebihan. Apa lagi kerjanya di produsen mobil premium seperti BMW. Namun ternyata ada sisi nggak enaknya juga lho, Otolovers.

"Capeknya minta ampun," kata BMW Driver Trainer, Gerry Nasution, saat dikunjungi detikOto, di Jakarta.

Dengan pengalamannya hampir sepuluh tahun Gerry bekerja sebagai instruktur, seorang instruktur punya jam kerja yang lebih banyak ketimbang yang dilatihnya.



"Seorang trainer itu harus selalu ada di lapangan, pada saat orang lain istirahat kita nggak, kita harus cek kendaraan, cek tempat trainingnya, cek materialnya, kita harus selalu jadi orang pertama yang ada di tempat itu dan yang terakhir meninggalkan tempat itu," tutur Gerry yang juga penggagas dan pembalap BMW Team Astra (BTA) itu.

Menurutnya, dengan tugasnya menjadi seorang trainer punya cukup banyak tanggung jawab, baik ke perusahaan maupun yang dilatihnya. Untuk itu, pengorbanannya pun lebih tinggi.



"Selama kita kasih training waktu istirahat kita sangat singkat sekali, setelah kasih materi yang lain istirahat kita menyiapkan materi selanjutnya, yang lain di dalam mobil kita harus berdiri di lapangan di tengah-tengah matahari, harus ngawasain karena ini kan tanggung jawab kita, safety-nya mereka tanggung jawab kita, materi yang kita sampaikan juga jadi tanggung jawab kita," papar Gerry.

[Gambas:Video 20detik]

(khi/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com