Kunjungi 20detik untuk video-video menarik lainnya
Christian Lesmana, desainer otomotif di Volkswagen AG kelahiran Indonesia memiliki semangat yang besar sebelum namanya dikenal. Pria kelahiran Bandung 15 Maret 1969 ini memiliki motivasi untuk bisa mendesain mobil.
Awalnya, dia sekolah di Institut Teknologi Bandung dalam 2 tahun. Kemudian, dia melanjutkan sekolahnya di Sekolah Tinggi Desain Fakultas Desain Industri jurusan Desain Transportasi di Pforzheim, Jerman.
"Waktu itu dua kali coba, dapat tempat, di sini (di Jerman) juga dapat tempat. Lalu saya bilang ke almarhum ayah saya, oke dimulai di Indonesia (di Institut Teknologi Bandung) untuk dapat basic, kemudian sudah 2 tahun baru cut dan ke Pforzheim, mulai dari nol lagi," cerita Chris Lesmana saat berbincang dengan detikOto dan satu pemenang Poloisme di Wolfsburg, Jerman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Dari kecil suka mobil. Makin lama, makin gede, masih terus suka mobil. Tapi kan di Indonesia tahun 80-an car design masih tidak mungkin. Terus gimana, pokoknya saya mau desain mobil, enggak ada lain, cuma mobil," kata Chris.
Chris pun terus mencari cara untuk bersekolah di bidang desain otomotif. Sampai akhirnya, dia dapat kesempatan di Pforzheim.
"Karena orang tua saya enggak punya uang, kalau saya kuliah di London kan mesti banyak duit. Kemungkinan di Pforzheim free. Tapi buat hidup tetap butuh uang. Terus, kita coba saja. Bikin portofolio, oke finish, kirim ke sana, dan datang undangan harus ke Pforzheim untuk tes kedua. Kemudian berangkat ke Jerman, ikut tes, rencananya 2 hari tapi sehari sudah cukup," kisah Chris.
Tapi, untuk bersekolah di Jerman, Chris harus bisa berbahasa Jerman. Dia belajar bahasa Jerman lebih dahulu baru berangkat kembali ke Jerman untuk melanjutkan pendidikannya.
"Waktu tes itu belum bisa bahasa Jerman. Terus balik lagi ke Indonesia, belajar bahasa Jerman, dapat sertifikat bahasa Jerman dan datang ke Pforzheim," kata Chris.
Foto: Rangga Rahardiansyah |
Ketika kuliah di Jerman, Chris harus menyesuaikan diri. Dia lebih disiplin dan fokus ke sekolahnya.
"Kita harus menyesuaikan, kita kan enggak di Indonesia, tapi di jerman, Jerman punya kulturnya sendiri, kita mesti mengikuti. Buat saya ini bikin disiplin. Di sini enggak ada (keluarga) yang menunggu, kita harus maju terus karena saya mau maju, that's my point. Jadi saya lupakan semuanya dan saya mulai dari nol lagi," kata Chris.
Semangat Chris untuk berkarier di dunia desain otomotif kian besar. Dia bertaruh tidak pulang ke Indonesia sebelum mendapatkan pekerjaan.
"Saya semangatnya pengin maju, saya fokus. Kayak waktu masih kuliah, saya pulang ke rumah waktu saya ujian, saya bilang ke ayah saya, saya pulang lagi kalau saya sudah punya pekerjaan, sebelum dapat pekerjaan, saya enggak mau pulang. Itu yang memacu saya," ucap Chris.
VW Up merupakan mobil hasil desainnya Foto: Dok. Istimewa |
Di tengah perjalanan sekolah di Pforzheim, Chris pun mencoba mendekatkan diri ke beberapa perusahaan otomotif besar untuk magang. Dia berusaha sendiri dan mengirimkan portofolio ke beberapa pabrikan seperti Volkswagen, Volvo, Saab, Audi. "Tapi ke-lock-nya di VW," ujar Chris.
Dia sempat magang di Volkswagen selama 6 bulan dan masa magangnya diperpanjang 6 bulan lagi. Usai magang dan menyelesaikan sekolahnya, Chris langsung bergabung secara resmi di Volkswagen AG pada April 1997.
Saat ini, Chris Lesmana sudah 20 tahun berkarier sebagai desainer mobil di Volkswagen AG, Jerman. Sudah banyak mobil Volkswagen yang mendapatkan sentuhan desain dari Chris Lesmana.
Foto: Dok. Istimewa |












































Foto: Rangga Rahardiansyah
VW Up merupakan mobil hasil desainnya Foto: Dok. Istimewa
Foto: Dok. Istimewa
Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!