Pada produk kendaraan, selalu ada varian medium yang terasa paling 'masuk akal'. Salah satunya Suzuki Fronx GX yang berada di tengah-tengah GL (termurah) dan SGX (termahal). Bagaimana sensasi berkendara mobil tersebut?
Redaksi detikOto memanfaatkan momen Indonesia International Motor Show atau IIMS 2026 untuk test drive Suzuki Fronx GX secara singkat. Meski hanya mengitari selasar pameran, namun ada sejumlah catatan menarik yang telah kami rangkum dari kendaraan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebagai gambaran awal, Suzuki Fronx GX dibanderol mulai dari Rp 302 jutaan dengan status on the road Jakarta. Nominal itu lebih murah Rp 28 jutaan dibandingkan varian tertinggi dan lebih mahal Rp 40 jutaan dibandingkan varian terendah.
Itulah mengapa, Suzuki Fronx GX dianggap sebagai varian paling 'masuk akal' untuk konsumen yang budget-nya berada di tengah-tengah. Eh, tapi bagaimana, sih, sensasi berkendaranya?
Test Drive Suzuki Fronx GX di IIMS 2026
Test Drive Suzuki Fronx GX di IIMS 2026. Foto: Septian Farhan Nurhuda / detikcom |
Di dalam kabin, Fronx GX tentu lebih premium dibandingkan versi GL. Sebab, ukuran headunit-nya lebih besar sekira 2 inch. Selain itu, varian tersebut juga sudah menggunakan MID 4,2 inch, push start button dan paddle shifter.
Usai duduk di kursi dan memakai sabuk pengaman, kami mengatur posisi berkendara sesuai postur badan. Kami menyalakan mesin, menarik tuas transmisi dan melaju dengan santai.
Setir kemudi Fronx GX terasa nyaman digenggam. Sebab, materialnya bukan berbahan urethane, melainkan leather atau kain. Komponen tersebut juga sudah mendukung tilt & telescopic, sehingga bisa diatur maju dan mundur.
Kesan pertama yang kami rasakan saat mengendarai Suzuki Fronx GX adalah 'hening'. Ketika berada di kabin, suara dari luar nyaris tak terdengar. Padahal, sewaktu test drive, situasinya sedang hujan cukup deras.
Karuan saja, kendaraan tersebut sudah dibekali fitur Noise, Vibration and Harshness (NVH) reduction yang mampu meminimalisir suara bising dan getaran dari luar.
Mengingat test drive-nya dilakukan di lintasan khusus, maka kami lebih sering melaju di kecepatan bawah. Pada situasi itu, mesin mild-hybrid di Fronx GX bekerja dengan baik. Tarikannya cukup responsif dan terasa halus.
Seluruh varian Suzuki Fronx dilengkapi suspensi MacPherson Strut di depan dan Torsion Beam di belakang. Kombinasi tersebut memberikan rasa berkendara yang fun to drive.
Saat melewati obstacles berupa speed bump, suspensi terasa agak kaku (stiff) namun masih memiliki rebound yang halus dan tetap terasa nyaman. Sementara saat dipakai menikung tajam, kendaraan tetap stabil dan tak limbung.
Setir kemudinya juga terasa begitu direct dan 'manut'. Ketika dipakai zig-zag, kendaraan benar-benar patuh dan mengikuti kemauan pengemudi dengan baik.
Sesi test drive di IIMS 2026 memang berlangsung sangat singkat dan tak bisa memberikan gambaran umum soal kendaraan. Namun, kesempatan tersebut memberikan kesan baik untuk kami. Fronx GX bisa menjadi opsi untuk konsumen yang ingin membeli SGX dengan dana 'terbatas'.
(sfn/rgr)













































Komentar Terbanyak
Pajak Avanza di Indonesia Rp 5 Juta, Malaysia Rp 600 Ribu, Thailand Rp 150 Ribu
Mobil Listrik China Murah-murah, Kok Suzuki Pede Jual e Vitara Rp 755 Juta?
Bikin Harga Tambah Mahal, Mobil di Bawah Rp 1 Miliar Diusulkan Tak Kena PPnBM