Bridgestone Adrenalin RE003, Menggigit di Trek Basah dan Kering

Ototes

Bridgestone Adrenalin RE003, Menggigit di Trek Basah dan Kering

- detikOto
Rabu, 18 Mar 2015 18:36 WIB
Bridgestone Adrenalin RE003, Menggigit di Trek Basah dan Kering
Karawang - PT Bridgestone Tire Indonesia (BSIN) meluncurkan ban untuk mobil-mobil dengan tampilan bodi dan performa sporty, Adrenalin RE003. Diklaim, ban ini bisa memberikan presisi dan kontrol maksimum.

Adrenalin RE003 ini diproduksi dengan kombinasi kekuatan material yang fokus pada traksi, stabilitas pengendalian serta respons yang sensitif terhadap kondisi jalan yang kering tanpa mengorbankan pengendalian dan pengereman di lintasan basah.

Untuk mendukung jalan kering dan basah, RE003 ini menggunakan kompon berbahan silika. Diklaim, penggunaan kompon terbaru yang lebih berkualitas mampu meningkatkan performa pada lintasan kering maupun basah.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk keadaan basah, ban ini menggunakan Pulse Groove atau ulir ban yang lebih teratur. Pola yang mirip gelombang diadopsi dari karakteristik ban balap. Saluran pembuangan air dan performa anti-hydroplaning dibuat lebih baik.

Sementara untuk lintasan kering, dinding ulir ban dibuat lebih melengkung. Dinding alur bagian tengah ban dibuat untuk meningkatkan performa pengendalian dan saat menikung.

Connection Block dengan Lug grooves yang lebih pendek diklaim memberikan kekuatan yang lebih pada bahu ban. Traksi yang kuat dan stabilitas pengendalian yang lebih baik dihasilkan oleh konstruksi baru ban terutama ketika menikung di kondisi kering.

Namun, semua itu hanya klaim semata dari Bridgestone. Untuk membuktikannya, para awak media, termasuk detikOto, diberikan kesempatan untuk menjajal ban ini di Proving Ground Bridgestone, Karawang, Jawa Barat.

Di trek uji coba itu sudah disediakan dua kondisi jalan, baik basah maupun kering. Jalan kering digunakan untuk menguji performa di tikungan, respons setir, stabilitas di jalan lurus dan menguji kebisingan ban.

Sementara lintasan basah digunakan untuk menguji daya cengkeraman di medan basah dan stabilitas di tikungan. Proving Ground Bridgestone ini menyajikan semua kondisi jalan yang ada di Indonesia. Panjang lintasannya mencapai 1,86 km dengan trek lurus terpanjangnya mencapai 864 m.

Nah, Otolovers penasaran bagaimana detikOto menguji kualitas ban ini di trek basah dan kering? Simak ulasannya berikut.




1. Sekilas Tentang Ban Potenza Adrenalin RE003

Potenza Adrenalin RE003 merupakan penerus dari RE002. Dibandingkan model sebelumnya, RE003 menawarkan respons yang lebih tajam pada saat melalui tikungan serta memiliki stabilitas maksimum saat menikung tanpa harus mengorbankan kenyamanan dalam berkendara.

Ban ini dijadikan ban sport jalan raya untuk jenis mobil sport kelas medium. Adrenalin RE003 memiliki pengendalian pada lintasan basah yang lebih baik dibandingkan dengan RE002.

Ban ini juga memiliki kemampuan pada lintasan kering yang cukup mumpuni dengan respons akurat. Dengan begitu, para pengemudi tidak perlu khawatir lagi soal keselamatannya meski mobil dipacu dengan kecepatan tinggi.

Adrenalin RE003 tersedia dalam 3 ukuran ring yaitu ring 16, 17 dan 19. Untuk ring 16, Bridgestone menawarkan ban ini dengan ukuran 225/50, 205/50, 225/55, 215/55, 205/55 dan 215/60. Sementara ring 17 tersedia dengan ukuran 205/40, 215/40, 245/45, 225/45, 216/45, 205/45 dan 225/55.

Ring terbesar pada ban ini adalah ring 18. Untuk ring 18 itu, Potenza Adrenalin RE003 ditawarkan dengan ukuran 225/40, 225/45 dan 235/50.

Ban ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 1.466.000 sampai Rp 1.966.000. Varian harga tersebut berdasarkan paket pilihan ukuran ban.

2. Uji di Lintasan Kering

Dalam uji kali ini, metode yang dilakukan adalah dengan membandingkan ban Bridgestone Potenza Adrenalin RE003 dengan ban kompetitornya.

Panitia uji coba ini menyediakan dua unit Honda Jazz yang sudah terpasang ban Bridgestone dan kompetitornya.

Pertama, detikOto mendapat kesempatan mencoba Honda Jazz yang menggunakan ban Adrenalin 003. Bendera hitam-putih pun dikibarkan pertanda detikOto harus memacu kecepatan dengan batasan awal 70 km/jam.

Usai memacu kecepatan, detikOto dihadapi tikungan U-turn yang cukup tajam. Namun, tim instruktur Bridgestone yang berada di dalam mobil bersama detikOto menyarankan agar mobil tetap dipacu dengan kecepatan sekitar 60 km/jam.

Hal itu dilakukan untuk menguji stabilitas ban saat menikung tajam. Benar saja, hanya sekali putar setir tanpa banyak koreksi, mobil melaju dengan mulus.

Selesai melewati tikungan, detikOto harus melalui rintangan zig-zag dengan cone yang terbentang di tengah jalan. Kecepatannya sama, sekitar 60 km/jam.

Namun, dengan kecepatan itu, mobil tidak limbung saat melakukan zig-zag. Setir juga tetap stabil dengan sekali putar ke kiri dan kanan saat melalui rintangan itu.

Usai rintangan zig-zag, ban diuji untuk berakselerasi. Di trek lurus, detikOto harus memacu sampai kecepatan maksimal 100 km/jam. Saat itu, gesekan ban juga cukup mumpuni sehingga untuk memacu dari 60 km/jam sampai 100 km/jam membutuhkan waktu yang tidak lama.

Uji yang terakhir adalah untuk mengetahui kebisingan ban. Kecepatannya sekitar 40 km/jam. Memang, saat uji kebisingan, gesekan ban tidak terdengar jelas dari dalam kabin.

Usai menguji Honda Jazz dengan ban Adrenalin 003, detikOto harus membandingkannya dengan Honda Jazz yang menggunakan ban kompetitor. Rintangannya pun sama.

Pertama, detikOto langsung memacu dengan kecepatan 70 km/jam. Namun, saat itu performa ban yang dirasakan detikOto masih sama dengan Adrenalin 003.


Perbedaan ban mulai terasa saat detikOto melalui tikungan U-turn. Ketika menggunakan ban kompetitor, setir harus banyak dikoreksi. Berbeda dengan Adrenalin 003 yang cukup memutar setir sekali dan menahannya.

Saat melalui rintangan zig-zag juga sama. Ban belakang merek kompetitor terasa seperti terbuang ke arah kanan saat setir diputar ke kiri (limbung). Berbeda dengan Adrenalin 003 yang cukup stabil.

Saat memacu kecepatan ke 100 km/jam, rasanya ban ini masih memiliki performa yang sama dengan Adrenalin 003. Namun, saat memasuki uji kebisingan, ban kompetitor itu terasa jelas terdengar gesekan ban dengan aspal dari dalam kabin.

3. Uji di Lintasan Basah

Usai menguji di lintasan kering, detikOto kemudian ditawarkan untuk mengujinya di lintasan basah. Panitia menyediakan dua Toyota Corolla Altis, satu menggunakan ban Adrenalin 003 dan satu lagi menggunakan ban kompetitor.

Uji di trek basah hanya menggunakan sebagian lintasan Proving Ground, tidak seluas lintasan kering. Namun, di lintasan basah ini terdapat tikungan-tikungan tajam yang menyerupai bentuk O.

Pertama, detikOto menggunakan Corolla Altis dengan ban Adrenalin 003. Karena lintasannya pendek, panitia memberikan kesempatan untuk memutari trek sebanyak dua lap dengan kecepatan stabil 40-50 km/jam.

Di lintasan basah, stabilitas ban Adrenalin 003 sangat terasa. detikOto hanya perlu memutar sekali setir dan menahannya tanpa perlu banyak koreksi setir. Itu artinya stabilitas ban cukup mumpuni.

Dari situ juga sudah tergambar daya cengkraman ban yang cukup baik di lintasan basah. Pijakan ban belakang saat menikung masih stabil meski dipacu dengan kecepatan hingga 50 km/jam. Di lintasan basah.

Keluar dari lintasan memutar, trek masih cukup basah. Saat keluar itu, detikOto dihadapi tikungan tajam ke kiri. Tapi, detikOto hanya perlu memutar setir ke kiri sedikit tanpa banyak koreksi juga.

Selesai menguji Adrenalin 003, saatnya membuktikan kualitas kompetitor.

Saat menikung, ban itu sudah mulai terasa harus banyak koreksi setir.

Itu artinya, ban kompetitor memiliki stabilitas yang kurang baik dibandingkan dengan ban Bridgestone. Karenanya, detikOto hanya berani memacu mobil dengan kecepatan hingga 40 km/jam di lintasan basah.

4. Kesimpulan

Setelah menguji ban Adrenalin 003 dengan perbandingan ban kompetitornya, detikOto sudah bisa menarik kesimpulan. Klaim Bridgestone tentang ban ini ternyata terbukti.

Stabilitas ban tetap terjaga saat menikung di lintasan basah maupun kering. Kenyamanan pun hadir karena tidak adanya kebisingan gesekan ban dengan aspal.

Namun, soal performa di kecepatan tinggi, detikOto merasakan tidak adanya perbedaan dari ban Bridgestone maupun kompetitor. Kedua ban itu memberikan respons yang sama cepatnya saat dipacu dari kecepatan rendah ke kecepatan tinggi.
Halaman 2 dari 5
(rgr/ddn)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads