Perjalanan selama 3 hari di kota Bandung menjadi bukti keunggulan mobil tersebut. Sejak pertama menjadi penumpang, impresi awal Outlander Sport merupakan kendaraan penumpang yang memadukan performa ketangguhan Mitsubishi Pajero, hanya saja Mitsubishi Outlander dalam bentuk yang lebih kecil.
Demi menjawab kebutuhan konsumen, Mitsubishi Outlander dipermak pada bagian eksterior dan interior. SUV kompak itu kini memberikan sebuah 'rasa' baru yang berbeda dari sebelumnya.
Bagaimana sensasi di balik kemudi Mitsubishi Outlander GLS facelift Rp 317 juta itu? Apakah cocok untuk keluarga Indonesia. Yuk simak ulasan berikut.
|
|
1. Desain eskterior
|
|
Untuk diketahui mulai dari sisi depan dan samping lebih tegas berkat garis tajam yang membuat penampilannya lebih sporty.
Bagian luarnya tambah mewah dengan penambahan komponen baru seperti 4 sensor parkir, lampu reflektor, retracable door mirror dengan turning lamp, lampu kabut dan semakin sporty dengan pelek 17 inci.
Selain mengejar tampilan depan yang sporty, Mitsubishi juga menonjolkan sisi sporty di belakang dengan menyematkan chrome muffler.
1. Desain eskterior
|
|
Untuk diketahui mulai dari sisi depan dan samping lebih tegas berkat garis tajam yang membuat penampilannya lebih sporty.
Bagian luarnya tambah mewah dengan penambahan komponen baru seperti 4 sensor parkir, lampu reflektor, retracable door mirror dengan turning lamp, lampu kabut dan semakin sporty dengan pelek 17 inci.
Selain mengejar tampilan depan yang sporty, Mitsubishi juga menonjolkan sisi sporty di belakang dengan menyematkan chrome muffler.
2. Desain interior
|
|
Interiornya kaya dengan warna hitam, cuma pilar-pilar dan atap yang menggunakan warna abu-abu. Untuk tipe ini masih pakai kunci untuk menyalakan mesinnya.
Berbeda dengan Outlander Sport PX yang sudah menggunakan engine start/stop button. Baiknya, Outlander Sport GLS sudah menggunakan immobilizer sama seperti Outlander Sport PX.
Untuk fitur hiburan, dasbornya memadukan layar sentuh 7 inci 2 DIN dengan fitur DVD, CD, MP3, WMA, Radio FM/AM, USB dan bluetooth. Untuk memudahkan pengendara, tersedia audio switch pada bagian kiri kemudi. Asyik bukan, aktivitas berkendara pun tetap fokus.
Masuk ke dalam interiornya. Joknya lebih rendah dari pintu layaknya kenyamanan dari sebuah sedan. Untuk pengendaran tinggi badan 167 cm cukup lapang dari head room dan leg room. Sayangnya busa kursi agak keras.
Namun visibilitas ke depan memberikan kesan lapang sehingga jarak pandang cukup baik. Pilar A tidak mengganggu pandangan ke luar samping, dan semakin aman dengan penggunaan kaca spion lebar sehingga minim blind sport.
Sedangkan spedometer lebih modern. Ada layar kecil di tengah spedometer sebagai informasi konsumsi BBM hingga jarak tempuh kendaraan.
Outlander Sport GLS masih mengandalkan tilt steering, teleskopik manual. Sedangkan kursi elektrik juga tidak ditemui di mobil yang sudah dirakit di Indonesia satu itu.
2. Desain interior
|
|
Interiornya kaya dengan warna hitam, cuma pilar-pilar dan atap yang menggunakan warna abu-abu. Untuk tipe ini masih pakai kunci untuk menyalakan mesinnya.
Berbeda dengan Outlander Sport PX yang sudah menggunakan engine start/stop button. Baiknya, Outlander Sport GLS sudah menggunakan immobilizer sama seperti Outlander Sport PX.
Untuk fitur hiburan, dasbornya memadukan layar sentuh 7 inci 2 DIN dengan fitur DVD, CD, MP3, WMA, Radio FM/AM, USB dan bluetooth. Untuk memudahkan pengendara, tersedia audio switch pada bagian kiri kemudi. Asyik bukan, aktivitas berkendara pun tetap fokus.
Masuk ke dalam interiornya. Joknya lebih rendah dari pintu layaknya kenyamanan dari sebuah sedan. Untuk pengendaran tinggi badan 167 cm cukup lapang dari head room dan leg room. Sayangnya busa kursi agak keras.
Namun visibilitas ke depan memberikan kesan lapang sehingga jarak pandang cukup baik. Pilar A tidak mengganggu pandangan ke luar samping, dan semakin aman dengan penggunaan kaca spion lebar sehingga minim blind sport.
Sedangkan spedometer lebih modern. Ada layar kecil di tengah spedometer sebagai informasi konsumsi BBM hingga jarak tempuh kendaraan.
Outlander Sport GLS masih mengandalkan tilt steering, teleskopik manual. Sedangkan kursi elektrik juga tidak ditemui di mobil yang sudah dirakit di Indonesia satu itu.
3. Performa mesin
|
|
Outlander Sport GLS berjalan halus dari tol Cipularang menuju kota Bandung. Perjalanan di hari pertama ini diakhiri di The Trans Luxury Hotel, jalan Gatot Subroto, Bandung, Jabar.
Perpindahan dari gigi 1,2,3 dan seterusnya cukup halus. Saat uji coba, tidak membutuhkan waktu lama untuk Outlander Sport GLS berakselerasi sampai kecepatan 100 km/jam. Mesin lumayan responsif menanggapi keinginan pengendaranya. Seandainya mobil ini dilengkapi paddle shift bukan tidak mungkin meningkatkan impresi berkendara.
Cuaca cerah mengiringi perjalanan 10 Outlander Sport menuju kota Bandung dikawal mobil Patwal dari Polda Jakarta. Sempat menempuh kecepatan 120 km/jam, dan dengan enteng mesin masih mau terus melaju di putaran tinggi.
Mobil ini tidak seolah-olah sebagai mobil keluarga. Pengendara yang kurang puas bisa menggeser tuas perseneling ke kanan atau mode manual. Nah, di situ mesin semakin menunjukkan performanya. Mobil semakin enak melaju di jalan bebas hambatan dan sangat responsif. Menyalip beberapa kendaraan pun sangat mudah belum lagi gerak kemudi yang ringan. Bisa lebih kencang lagi, tapi panitia tidak mengizinkan.
Beberapa kilometer dari kota Bandung, kami dihadapi trek tanjakan. Untung mobil kembali menyajikan unsur sporty. Tidak ada kesulitan melibas tanjakan dengan mode manual. Secara keseluruhan, performa mesin sangat baik meski suara mesin masuk ke kabin penumpang mulai 4.000 rpm.
3. Performa mesin
|
|
Outlander Sport GLS berjalan halus dari tol Cipularang menuju kota Bandung. Perjalanan di hari pertama ini diakhiri di The Trans Luxury Hotel, jalan Gatot Subroto, Bandung, Jabar.
Perpindahan dari gigi 1,2,3 dan seterusnya cukup halus. Saat uji coba, tidak membutuhkan waktu lama untuk Outlander Sport GLS berakselerasi sampai kecepatan 100 km/jam. Mesin lumayan responsif menanggapi keinginan pengendaranya. Seandainya mobil ini dilengkapi paddle shift bukan tidak mungkin meningkatkan impresi berkendara.
Cuaca cerah mengiringi perjalanan 10 Outlander Sport menuju kota Bandung dikawal mobil Patwal dari Polda Jakarta. Sempat menempuh kecepatan 120 km/jam, dan dengan enteng mesin masih mau terus melaju di putaran tinggi.
Mobil ini tidak seolah-olah sebagai mobil keluarga. Pengendara yang kurang puas bisa menggeser tuas perseneling ke kanan atau mode manual. Nah, di situ mesin semakin menunjukkan performanya. Mobil semakin enak melaju di jalan bebas hambatan dan sangat responsif. Menyalip beberapa kendaraan pun sangat mudah belum lagi gerak kemudi yang ringan. Bisa lebih kencang lagi, tapi panitia tidak mengizinkan.
Beberapa kilometer dari kota Bandung, kami dihadapi trek tanjakan. Untung mobil kembali menyajikan unsur sporty. Tidak ada kesulitan melibas tanjakan dengan mode manual. Secara keseluruhan, performa mesin sangat baik meski suara mesin masuk ke kabin penumpang mulai 4.000 rpm.
4. Handling
|
|
4. Handling
|
|
5. Fitur keamanan
|
|
5. Fitur keamanan
|
|
6. Kesimpulan
|
|
Poin Plus
- Mesin responsif
- Desain modern
- Suspensi nyaman
Poin Minus
- Jok keras
- Atap belakang terlalu pendek
- Harga kurang ekonomis
6. Kesimpulan
|
|
Poin Plus
- Mesin responsif
- Desain modern
- Suspensi nyaman
Poin Minus
- Jok keras
- Atap belakang terlalu pendek
- Harga kurang ekonomis












































Komentar Terbanyak
Habis Ngamuk Ditegur Jangan Ngerokok, Pemotor PCX Kini Minta Diampuni
Viral Lexus Berpelat RI 25 Potong Antrean di Gerbang Tol
Viral Pemotor Maksa Lawan Arah, Nggak Dikasih Lewat Malah Ngamuk!