Mengapa MotoGP Kini Tak Seseru Era Valentino Rossi?

ADVERTISEMENT

Mengapa MotoGP Kini Tak Seseru Era Valentino Rossi?

Septian Farhan Nurhuda - detikOto
Jumat, 02 Des 2022 06:06 WIB
Italian MotoGP rider Valentino Rossi (N°46) on his Fiat Yamaha, leads in front of Australian Casey Stoner on his Ducati, during the Red Bull US Grand Prix in Laguna Seca, California, July 20, 2008. Rossi won the race, Casey Stoner took the second place and Chris Vermeulen the third.  AFP PHOTO GABRIEL BOUYS / AFP PHOTO / GABRIEL BOUYS
Kenapa MotoGP modern dianggap tak seseru era Valentino Rossi? Foto: GABRIEL BOUYS/AFP
Jakarta -

Sejumlah pengamat dan legenda balap beranggapan, MotoGP modern tak seseru era Valentino Rossi. Sebab, saat ini, seluruh pebalap saling berteman. Bahkan, mereka yang tengah bersaing memerebutkan gelar juara, bisa bercanda dan tertawa bersama usai perlombaan berakhir.

Legenda balap asal Spanyol, Jorge Lorenzo beranggapan, MotoGP modern telah kehilangan satu aspek yang membuat tingkat keseruannya menurun, yakni rivalitas antar pebalap. Menurut dia, makin minim rivalitas, maka makin sedikit drama yang tersaji di lintasan.

"Saat ini, semua pebalap terlihat berkawan. Cara bicara Quartararo ke Bagnaia tidak sama seperti saat saya bicara ke Rossi. Kemudian cara bicara Bagnaia ke Martin tidak sama seperti saat Rossi bicara ke Stoner. Kini, semuanya punya hubungan baik," ujar Lorenzo, dikutip dari Cycle World, Kamis (1/12/22).

MISANO ADRIATICO, ITALY - SEPTEMBER 13:  Jorge Lorenzo of Spain and Movistar Yamaha MotoGP leads Valentino Rossi of Italy and Movistar Yamaha MotoGP in the MotoGP World Championship race during the San Marino GP at Misano World Circuit on September 13, 2015 in Misano Adriatico, Italy.  (Photo by Mirco Lazzari gp/Getty Images)Jorge Lorenzo dan Valentino Rossi Foto: Mirco Lazzari gp/Getty Images

Dia kemudian mengenang masa-masa saat Valentino Rossi masih aktif membalap. Kala itu, menurutnya, The Doctor selalu menghadirkan rivalitas sengit dengan para pesaingnya, seperti Max Biaggi, Sete Gibernau, Casey Stoner, Marc Marquez, hingga dirinya sendiri.

Kondisi tersebut yang membuat persaingan di lintasan menjadi lebih seru disaksikan. Bahkan, tak jarang, aksi gesekan antar pebalap membuat adrenalin penonton lebih terpacu.

"Saya menghormati semua pebalap, tapi rivalitas membuat penonton menjadi lebih bersemangat. Saya jadi teringat persaingan antara Rossi dengan Stoner atau Rossi dengan Biaggi. Kala itu, rivalitas membuat semuanya terlihat seru," ungkapnya.

Rossi diduga tendang Marquez di MotoGP Malaysia 2015.Rossi diduga tendang Marquez di MotoGP Malaysia 2015. Foto: Motogp.com

Lebih jauh, Lorenzo mengenang momen-momen saat memerebutkan gelar juara bersama Rossi. Menurutnya, keinginan mengalahkan Rossi selalu membuatnya bergairah di lintasan. Sebab, kata dia, Rossi merupakan tokoh sentral dan menjadi pusat perhatian di MotoGP.

"Melawan Rossi selalu sulit. Tanpa personalitas yang kuat, saya mungkin akan dikalahkan Rossi secara psikologis. Sebab, Rossi mencuri perhatian banyak orang. Dia sangat dicintai dan membuat lawan-lawannya merasa kecil," tuturnya.

"Mengalahkan Rossi dengan motor yang sama (Yamaha) telah memberikan saya rasa senang. Selain itu, popularitas saya di MotoGP juga meningkat," kata Lorenzo menambahkan.



Simak Video "Marc Marquez: Roger Federer Seperti Valentino Rossi"
[Gambas:Video 20detik]
(sfn/sfn)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT