Alasan Blue Bird Kini Tambah Mobil Hybrid untuk Armada Taksi

M Luthfi Andika - detikOto
Selasa, 16 Nov 2021 13:43 WIB
Jakarta -

PT Blue Bird Tbk memang sudah memiliki puluhan kendaraan listrik sebagai armadanya, tapi tahun ini Blue Bird kembali buat gebrakan dengan memilih Toyota Prius PHEV untuk wara wiri di jalanan Jakarta.

Akan tetapi ada pertanyaan unik, kenapa memilih hybrid bukan memilih mobil listrik kembali, kapok menjadikan kendaraan listrik sebagai armada listrik?

"Bukan-bukan seperti itu, kita coba fokus pada kendaraan yang ramah lingkungan, jadi apakah itu hybrid atau listrik tujuannya sama," kata Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Sigit Djokosoetono di GIIAS 2021.

"Sementara itu kita juga terus mengeksplore mobil listrik dan hybrid, bagaimana terhadap produktivitas (menguntungkan sebagai armada taksi atau tidak?), karena yang listrik juga kita kan terbatas hanya ada 30 unit saja, Prius hybrid ini lebih sedikit karena suplaynya juga memang belum siap, untuk itu kita perlu review dulu, keuntungannya masing-masing punya nilai plus-minus," ujar Sigit.

Blue Bird pastikan menambah armada kendaraan ramah lingkungan mereka. Toyota Prius PHEV pun dipilih menjadi salah satu line up paling anyar. Penasaran?Blue Bird pastikan menambah armada kendaraan ramah lingkungan mereka. Toyota Prius PHEV pun dipilih menjadi salah satu line up paling anyar. Penasaran? Foto: Rifkianto Nugroho

Sigit juga menambahkan, dalam kaca mata dirinya penggunaan mobil hybrid atau listrik untuk menjadi hybrid itu memiliki kelebihan masing-masing.

"Kalau untuk plug in hybrid ini infrastruktur jalannya lebih banyak, karena ada bensinnya. Tapi kalau yang mobil listrik, infrastruktur masih dalam pengembangan. Ini (penggunaan kendaraan listrik) merupakan jembatan untuk bisa lebih baik sih," Sigit menambahkan.

Lalu berapa lama Blue Bird melihat keunggulan penggunaan kendaraan elektrifikasi sebagai armada listrik?

"Berapa lama melihat apakah efektif atau tidak menggunakan kendaraan listrik, biasanya kita butuh waktu yang cukup lama, tapi kita juga harus melihat suplay dan demandnya bersamaan. Jadi kita tidak bisa putuskan berapa lama, tapi ini akan menjadi armada yang cukup permanen sehingga kita perlu perhatikan," tutup Sigit.

(lth/din)