Akankah Yamaha Tricity 2022 Diboyong ke Indonesia?

Luthfi Anshori - detikOto
Selasa, 31 Mei 2022 09:09 WIB
Yamaha Tricity 155 model tahun 2022
Yamaha Tricity 155 2022. (Foto: Yamaha Motor Europe)
Jakarta -

Yamaha Eropa baru saja meluncurkan skuter roda tiga Tricity MY 2022. Yamaha Tricity sebelumnya juga dipasarkan di Indonesia, melihat sudah ada versi barunya di Eropa, apakah Yamaha Indonesia juga akan memboyongnya ke Tanah Air?

Beberapa waktu lalu Yamaha Eropa memberi penyegaran terhadap skuter roda tiga Tricity 125 dan Tricity 155. Penyegaran ini dilakukan pada area mesin, sedikit pada bagian rangka, hingga desainnya.

Demi membuat lingkungan lebih baik, Tricity 125 ataupun 155 kini mengusung mesin baru yang sudah lulus uji emisi EURO5. Mesin yang dibekali dengan teknologi Blue Core ini kini diklaim lebih efisien serta ramah emisinya. Mesin Tricity juga masih pakai teknologi Variable Valve Actuation (VVA).

Selain mesin yang lebih ramah emisi, Tricity juga mengusung Starter Generator Control Unit (SGCU) yang diklaim bisa membuat fungsi kelistrikan, serta elektronik dari mesin kian optimal. Yamaha bahkan mengklaim teknologi ini bisa membuat pengiriman bahan bakar, pembangkit listrik motor, dan sistem Start & Stop-nya dapat lebih ramah lingkungan.

Dulu PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM) pernah menjual model Tricity di Indonesia secara CBU atau impor utuh dari negara lain. Tetapi sekarang penjualannya tidak dilanjutkan lagi. Nah, dengan adanya pembaruan model di Eropa, apakah ada kemungkinan Tricity dijual lagi di sini?

"Dulu kan sudah (pernah jual Tricity di Indonesia) ya. Sekarang belum ada rencana (menjualnya lagi)," terang Manager Public Relation, YRA & Community, PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), Antonius Widiantoro, di Jakarta (27/5/2022).

Menurut Anton, mengimpor sebuah produk yang baru diluncurkan di Eropa tidak bisa dilakukan langsung begitu saja. Sebab juga perlu tahu apakah di market Indonesia ada keinginan terhadap produk tersebut.

"Yang pasti kalau impor kan harus di-planning-kan jauh hari, tidak bisa di Eropa baru launching terus kita langsung impor. Kemudian kita juga harus lihat demand-nya seperti apa? Jangan sampai kita masukkan, tetapi bukan karena ada permintaan dari konsumen, kan juga sayang (kalau gitu). Makanya kita juga selalu lihat respons marketnya dulu. Kalau konsumen memang mau, ya pasti kita pertimbangkan," bilang Anton.

(lua/din)