Senin, 18 Mar 2019 17:30 WIB

Kenapa Harus 'Unboxing Motor' saat Ogah Ditilang?

Rizki Pratama - detikOto
Motor Honda BeAT dibanting pengguna. Foto: Facebook Motor Honda BeAT dibanting pengguna. Foto: Facebook
Jakarta - Merusak motor pada saat ditilang oleh pihak berwajib seharusnya dapat diselesaikan dengan cara yang baik. Perasaan merasa kalah ketika harus mengakui kesalahan membuat beberapa pelanggar lalu lintas mengambil tindakan destruktif seperti merusak motor mereka.

Secara psikologis ada lima pendekatan yang bisa diambil dalam menghadapi konflik. Dalam pendekatan ini ada unsur kompetisi yang berkaitan dalam pengambilan keputusan.

"Jadi nih ya, pas kita berhadapan dengan suatu masalah terutama dengan orang lain kita punya 5 pilihan," kata Ahli Psikologi, Ervan Abu saat dihubungi detikcom (18/3/2019).



Ervan menganalogikan situasi perusakan motor dengan polisi dan pelanggar sebagai dua kakak-beradik, sedangkan motor sebagai sepotong kue yang diperebutkan. Dari situasi itu ada 5 hal yang bisa dipilih. Penjelasan Ervan itu berlandaskan pada mode konflik Thomas Kilmann.

- Menghindar: Keduanya tidak mendapatkan apa-apa
- Mengalah: Salah satunya mengalah
- Kompetisi (berebutan): Siapa yang cepat atau kuat mendapatkan apa yang diinginkan
- Kompromi: Mendapatkan bagian yang sama banyak
- Sinergi: Keduanya menang dengan bernegosiasi menemukan jalan terbaik

"Kalau dari sudut pandang konsep ini, yang kompetisinya sehat tidak terdefinisi. Karena pada dasarnya kompetisi adalah mendapatkan apa yang dimau sedangkan orang lain tidak. Mulai dari penyerobot antrean, penawar sadis, fans die hard politikus, semua terkondisikan ada yang kalah dan ada yang menang," papar Ervan.



Pada kasus unboxing motor, pilihan yang diambil adalah menghindar sehingga tidak ada yang mendapatkan apa yang diinginkan. Polisi tidak memiliki motor untuk ditahan karena pemilik motor memilih untuk merusak motornya.

"Pelaku tampaknya tidak punya strategi menghadapi konflik yang fleksibel. Jadi mengambil cara 'kalah-kalah'. Padahal ada banyak cara menghadapi konflik yang lain yang lebih produktif," jelas Ervan.

Hal ini menurut Ervan cenderung tidak memberikan solusi dengan lari dari masalah. "Poin pentingnya setiap orang punya pilihan untuk mencoba bekerja sama atau malah menyerang. Kadang ada yang kecenderungannya bukan mencari solusi tapi lari dari masalah," tutupnya. (rip/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed