Jumat, 22 Feb 2019 18:34 WIB

Mengenal Tiga Tahapan Tes Helm Standar SNI

Luthfi Anshori - detikOto
Helm SNI Foto: Luthfi Anshori/detikOto Helm SNI Foto: Luthfi Anshori/detikOto
Bogor - Sertifikasi SNI (Standar Nasional Indonesia) hadir sebagai pengontrol mutu dari setiap barang yang diproduksi di Tanah Air. Termasuk perangkat keamanan seperti helm, juga harus lolos uji SNI supaya aman digunakan pengendara motor di Indonesia.

Dijelaskan Nuswandari dari bagian Quality Control helm Cargloss, ada tiga tahapan yang harus dilewati saat menguji sample helm dengan standar kualitas SNI, yakni mulai tes impact, chin strap, dan penetrasi.



Tapi sebelum dilakukan pengujian, akan dilakukan lebih dulu prosedur tricking point, yakni untuk menentukan titik pengujian helm dari posisi depan, kanan, kiri atas, dan belakang.

"Setelah itu baru tes impact atau G Shock yang akan menguji kekuatan shell helm saat dibenturkan dengan benda tumpul. Tes akan dilakukan dua kali. Pertama helm dijatuhkan pada ketinggian 230 cm. Dan tes kedua 117 cm," terang Nuswandari.

Setelah helm dijatuhkan, maka hasilnya akan langsung ketahuan di layar komputer dalam format grafik. Adapun sesuai syarat SNI, helm yang dijatuhkan sebanyak dua kali tadi tidak boleh lebih dari angka 300 G (gravity).

Lanjut ke tahapan kedua, ialah tes chin strap atau tali pengikat helm ke dagu. "Tes ini dilakukan untuk mengetahui kekuatan tali pengikat. Tali pengikat yang sesuai standar SNI, tidak akan mulur jika dikasih beban berat," lanjut Nuswandari.

Helm SNIHelm SNI Foto: Luthfi Anshori/detikOto


Adapun prosedur pengetesan ini, chin strap akan diganduli beban seberat 10 kg, dengan jarak tarikan sekitar 35 cm. Tes pertama, sistem pengunci tidak boleh lepas. Dan indikator penilaian kedua, chin strap tidak moleh mulur lebih dari 32 mm dan 16 mm.

"Selain kita melihat sisa perpanjangan tali dan sistem penguncinya lepas atau tidak, pengetesan ini juga akan melihat kondisi jahitannya. Jadi jahitan di helm pun punya standar SNI-nya tersendiri," terang Nuswandari.



Untuk tahap pengetesan ketiga ialah penetrasi. Proses pengetesan ini terbilang ekstrem, karena helm akan dijatuhi benda tajam dari ketinggian tertentu.

"Pengetesan penetrasi, helm akan dijatuhi benda tajam dengan berat 3 kg dari ketinggian 130 cm. Pengujiannya satu kali saja. Targetnya adalah alarm tidak berbunyi," kata Nuswandari.

Lalu bagaimana jika alarm berbunyi? Itu tandanya serapan getaran helm tembus ke kepala. Dan otomatis helm tidak akan lolos pengujian.

Di Cargloss sendiri prosedur tes SNI akan mengambil sekira 10 sample helm berbagai tipe dari setiap 1.000 unit yang diproduksi. (lua/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed