Rabu, 19 Des 2018 10:21 WIB

Pendapatan Driver Ojol Tak Semanis Dulu

Ridwan Arifin - detikOto
Ojek online di jalanan Jakarta. Foto: Rifkianto Nugroho Ojek online di jalanan Jakarta. Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta - Tak bisa dimungkiri bahwa ojek online (ojol) saat ini menjadi pilihan moda transportasi bagi masyarakat yang hendak berpergian. Praktis, cepat, dan lebih hemat adalah alasan terbesar ojek online menjadi primadona.

Namun Pengamat Transportasi, Djoko Setijowarno menilai para driver ojek online belum mendapatkan kesejahteraan yang layak. Bahkan saat ini pendapatan per bulan mereka tidak semanis iming-iming aplikator lagi.



"Iming-iming dari aplikator dengan pendapatan yang cukup besar (minimal Rp 8 Juta) menyebabkan sebagian besar warga beralih profesi menjadi pengemudi ojek daring," kata Djoko.

"Awalnya pendapatan per bulan bisa minimal sesuai janji promosi, yakni Rp 8 Juta per bulan, bahkan kala itu rata-rata bisa di atas Rp 10 juta per bulan," ungkap Djoko.

Lebih lanjut, kata Djoko, banyaknya masyarakat yang berprofesi sebagai pengemudi ojek online tidak dibarengi bertambahnya pengguna aplikasi ojek daring.



"Dampaknya terjadi penurunan pendapatan sekitar 40%. Sekarang ini, rata-rata pendapatan per bulan kurang dari Rp 5 Juta. Sementara beban kerja meningkat, sudah tidak bisa lagi 8 jam sehari, harus di atas 10 jam, bahkan ada yang beroperasi hingga 12 jam," kata Djoko.

Hal tersebut juga disampaikan oleh Presidium Gerakan Aksi Roda Dua (GARDA) Indonesia, Igun Wicaksono.

"Betul (yang disampaikan pengamat), malah seorang ojek online apabila bekerja normal 8 jam sehari dalam 24 hari kerja hanya bisa berpendapatan di bawah UMR DKI, tidak mencapai Rp 3,5 juta per bulan," ungkap Igun kepada detikOto. (riar/rgr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed