Sabtu, 10 Nov 2018 09:00 WIB

Peralihan ke Motor Listrik Secara Tiba-tiba Bikin Banyak Pengangguran?

Rangga Rahadiansyah - detikOto
Motor Listrik Yamaha e-Vino. Foto: Agung Pambudhy Motor Listrik Yamaha e-Vino. Foto: Agung Pambudhy
Jakarta - Motor listrik menjadi jawaban akan kendaraan masa depan. Karena motor listrik termasuk kendaraan ramah lingkungan dan tidak mengeluarkan emisi gas buang.

Pemerintah tampaknya sudah mendukung pengembangan motor listrik. Pemerintah sendiri melalui roadmap yang dibuat menargetkan produksi 2,1 juta unit motor listrik dan 1.000 unit Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) sampai tahun 2025 nanti.

Presiden Direktur Yamaha Indonesia Motor Manufacturing Indonesia (YIMM), Minoru Morimoto, menanggapi pihaknya juga mendukung keputusan pemerintah dalam menciptakan motor listrik. Apalagi, kata dia, Yamaha merupakan salah satu produsen yang sudah siap dengan motor listrik secara global melalui e-Vino.



"Tapi Yamaha bersama AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) berdiskusi khususnya terkait teknikal, membicarakan keamanan dari baterai motor listrik. Namun secara keseluruhan, kami mendukung pemerintah," kata Morimoto.

Masalahnya, kata Morimoto, kalau mengubah penggunaan ke motor listrik secara tiba-tiba. Pemasok komponen sepeda motor di Indonesia bisa kehilangan bisnisnya.



"Jadi setuju soal motor listrik. Tapi bagaimana membuat masyarakat secara ekonomi tidak terpengaruh. Kalau berpindah ke motor listrik secara tiba-tiba, banyak orang yang menganggur (karena pemasok komponen sepeda motor hilang-Red)," ujar Morimoto.

"Yamaha punya banyak pemasok komponen, dan terus berbisnis juga tanggung jawab Yamaha," sambungnya. (rgr/ddn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed