Jumat, 12 Okt 2018 16:31 WIB

Kilas Balik si Motor Touring Suzuki Thunder 250

Ridwan Arifin - detikOto
Suzuki Thunder Foto: Ridwan Arifin/detikOto Suzuki Thunder Foto: Ridwan Arifin/detikOto
Jakarta - Motor 250cc tidak selamanya dikuasai oleh kelas sport dan naked bike saja. Kalau Otolovers flashback lagi, pada era akhir 2000, Suzuki sempat mengeluarkan GSX 250 atau yang lebih populer dipanggil Suzuki Thunder 250 untuk kelas sport touring.



Motor tersebut digadang-gadang untuk menyaingi Honda Tiger 2000 dan Yamaha Scorpio. Penasaran nggak sih seperti apa kiprahnya di Indonesia? Untuk itu detikOto menyambangi salah satu spesialis Suzuki Thunder 250 di wilayah Cinere, Depok.

Welly merupakan pemilik sekaligus mekanik Kharisma Motor yang biasa menangani motor Thunder 250. Sudah hampir 20 tahun dirinya berhadapan dengan motor besutan Suzuki ini.

Suzuki Thunder 250ccSuzuki Thunder 250cc Foto: Ridwan Arifin/detikOto


"Kalau ketemu Suzuki Thunder 250 sudah hampir 20 tahun, saya ngerasain motor ini emang nyaman buat jalan jauh," ucap Welly kepada Detikoto.

Hatinya mulai terpincut kala itu karena untuk kelas sport touring Suzuki menghadirkan cc paling besar dibalut sistem SOHC dengan 4 klep tertanam di dalamnya. Serta dibekali mesin satu silinder dengan dua header knalpot.



"Motor ini bisa dibilang pelopor 250 cc di Indonesia, waktu itu pesaingnya kan Yamaha Scorpio 225 cc, Honda Tiger 200 cc, dan Kawasaki Eliminator kalau tidak salah, secara tampilan motor ini terlihat cukup kekar dan moge look-kan," ungkapnya.

Suzuki Thunder 250 memang sudah diberhentikan produksinya sejak tahun 2005. Sejak tahun 1999 motor sudah diproduksi, namun Welly mengatakan sekilas perbedaannya tidak terlalu banyak dengan keluaran tahun 2000 ke atas.

"Sekilas secara tampilan tidak ada perbedaan dengan keluaran tahun 1999, tapi kalau diperhatikan lebih lanjut pasti ada baut di atas blok mesin buat keluaran 2000 ke atas, kalau tidak jeli pasti sulit buat ketahuan," ujar Welly seraya tertawa.

Populasinya yang terbatas dan sudah discontinue membuat Thunder 250 menjadi buruan para kolektor. Welly juga mengungkapkan tidak meledaknya Thunder 250 hal itu terkait dengan iklim pasca krisis moneter dan anggapan motor dengan harga yang mahal.



"Sayangnya Thunder 250 kurang banyak waktu itu, kan pasca krismon, anggapan boros karena cc besar, harganya juga lumayan sih waktu itu," ungkapnya.

"Banyak orang pengen tarikannya mantap, mending dia beli motor sport sekalian, banyak juga yang beli terus jual karena itu, padahal kalau thunder kan untuk touring, sehingga nyaman, powerfull, dan durabillitynya pas buat jarak jauh," tuturnya. (lth/lth)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikoto.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed