Konsumen Motor Premium Beralih dari Sport ke Skutik

Ruly Kurniawan - detikOto
Senin, 28 Mei 2018 18:59 WIB
Motor CBR Foto: Ari Saputra
Jakarta - Semakin banyak pilihan produk kendaraan yang ditawarkan ke pasar tentu akan mempengaruhi pilihan konsumen untuk membelinya. Itulah yang dialami oleh sepeda motor sport fairing berkapasitas 250 cc dari PT Astra Honda Motor (AHM), CBR250RR. Karena motor premium skutik sudah banyak di pasaran, roda dua tersebut terlihat sedang ditinggalkan. Pihak AHM pun mengakuinya.



Berdasarkan data dari Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), misalkan, penjualan CBR250RR periode Januari-April 2018 hanya terjual 1.121 unit. Padahal, di tahun sebelumnya pada periode yang sama ia bisa tembus angka 4.141 unit. Bila di rata-rata, penurunan penjualannya sudah sekitar 72 persen.

"Betul pasar 250 memang turun. Ada beberapa hal yang jadi penyebabnya pertama kondisi ekonomi yang setahun-dua tahun ini ternyata tidak lebih baik daripada lima tahun lalu. Lalu, kita lihat GDP (Gross Domestic Product), pendapatan kita belum loncat ke 3,500. Biasanya, kelas-kelas premium itu akan terangsang saat GDP kita sampai di 4,000," kata Direktur Pemasaran PT AHM Thomas Wijaya kepada wartawan di Jakarta.



"Jadi itulah mengapa market sepeda motor 250 mengalami penurunan. Kita juga lihat ada kemungkinan juga konsumen saat ini memiliki pilihan-pilihan baru di matik premium," lanjutnya.

Belum lagi, CBR tahun ini mendapatkan pesaing baru sehingga motor tersebut kemungkinan akan makin goyang. "CBR 250 masih baik walaupun sedikit terganggu dengan kompetitor yang punya model baru. Namun kita tetap terus tancap gas dan optimis," papar Head of Marketing PT Wahana Makmur Sejati, Ario dikesempatan berbeda.



Skutik premium yang dimaksut oleh pihak AHM yaitu All New Honda PCX 150. Dengan desain yang kekinian dan segar, motor dibanderol sampai Rp 31 jutaan. Masih dalam data yang sama yaitu AISI, dalam empat bulan pertama ini PCX sudah terjual sampai 17.408 unit. Sedangkan CBR250RR yang dibanderol Rp 60 jutaan tertinggal jauh. (ruk/lth)