Dimas mengatakan, perubahan motor ini sudah terbilang baik. Tenaga dan handling-nya dinilai Dimas oke saat melibas Sirkuit Karting Sentul.
"Enak banget. Di cornering stabil. Terus powernya juga agresif. Dari buka-bukaan giginya, powernya kerasa. Terus di long corner-nya juga motornya itu stabil. Power terasa, ngisi terus. Dengan jarak yang kecil udah lumayan lah top speed-nya," kata Dimas menjawab pertanyaan detikOto di Sirkuit Karting Sentul, Kab. Bogor, Jawa Barat, Kamis (18/2/2016).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Apalagi sekarang kan pakai livery-nya livery AHRT (Astra Honda Racing Team) banget kan. Jadi stylenya udah style balap banget," ujarnya.
Dari bagian depan, kata Dimas, desain motor ini sudah tajam dan agresif. Hal itu berbeda dengan model sebelumnya yang masih bulat dan besar.
"Dari depannya sudah suka. Kalau yang sebelumnya kan terlalu bulat, gede. Kalau ini tajam, racing banget, jadi kayak aerodinamis banget," ujad Dimas.
Apalagi, saat ini CBR150R ini sudah mengadopsi livery tim balap Indonesia, AHRT. Hal itu menjadi kebanggan tersendiri karena menurut Dimas, CBR150R terbaru ini sudah mengadopsi kesan Indonesia.
"Sudah pakai (livery) ini mirip lah sama yang di AHRT. Kalau dulu kan cuma Repsol (livery motor MotoGP Repsol Honda), kalau ini AHRT banget. Livery-nya Indonesia banget," ujar Dimas.
Setelah menjajal di sirkuit, Dimas mengatakan, motor ini juga cocok untuk perkotaan. Apalagi, karakter Sirkuit Karting Sentul yang banyak tikungan dan stop and go sudah bisa menggambarkan karakter jalanan perkotaan.
"Buat perkotaan cocok sih. Apalagi kalau di sini (Sentul Karting) kan kayak stop and go kan. Ada speed-nya juga. Enak banget sih. Tadi pertama khawatir karena ban standar kan. Tapi ketika warm up, wah enggak ada masalah. Terus buat nikung-nikung enggak ada masalah," sebutnya. (rgr/ddn)












































Komentar Terbanyak
Tukang Tambal Ban Pungut Pelat Nomor Terbawa Banjir, Minta Tebusan Rp 50 Ribu
Pengendara Singapura Banyak yang Mau Balik Beli Mobil Bensin
Lawan Arah di Malaysia Didenda Rp 60 Juta, di Indonesia Cuma Rp 500 Ribu