Daya Beli Masih Lemah, Tren Kredit Macet Motor Naik Turun

Daya Beli Masih Lemah, Tren Kredit Macet Motor Naik Turun

Arif Arianto - detikOto
Senin, 07 Des 2015 15:24 WIB
Daya Beli Masih Lemah, Tren Kredit Macet Motor Naik Turun
Pengguna motor Yamaha tengah menyervis kendaraan (Foto Aris Ginanjar)
Jakarta - Meski tak semoncer tahun-tahun sebelumnya, di tengah masih lemahnya daya beli masyarakat, penjualan sepeda motor masih terus terjadi. Namun, tak sedikit diantara pembelian secara kredit yang mengalami macet.

β€œSecara umum, tingkat kredit macet secara nasional di segmen kendaraan roda dua masih terbilang belum mengkhawatirkan,” tutur salah seorang eksekutif di sebuah lembaga pembiayaan nasional yang dihubungi detikOto, Senin (7/12/2015).

Namun, lanjutnya, jika dicermati tren yang ada di wilayah-wilayah tertentu tren kredit macet tersebut mengalami peningkatan. Dia menyebut di wilayah Sumatera, di saat harga komoditas sawit dan karet yang harganya turun.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

β€œAkibatnya, pendapatan masyarakat yang bekerja di sektor itu dan menjadi debitur pembelian motor juga menghadapi kesulitan membayar cicilan. Begitu juga di beberapa daerah,” ujarnya.

Sumber itu menyebut, tren peningkatan kredit macet tak hanya dialami perusahaannya saja, tetapi juga perusahaan lain. Dia menyebut sepanjang Januari hingga September lalu perusahaannya membukukan kredit macet otomotif sebesar 1,7 persen.

β€œPada periode sama tahun lalu, NPL (non performing loan) hanya 1,4-1,5 persen. Tapi itu secara total ya, kalau per daerah bisa bervariasi, ada yang naiknya cukup tinggi, tinggi, atau bahkan flat atau tidak ada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, tak menampik kabar seperti itu.

β€œInformasi yang saya terima, secara nasional atau secara keseluruhan kredit macet di segmen sepeda motor itu hanya 2,5 persen. Artinya, ya masih cukup wajar. Tetapi kalau dibilang di sejumlah daerah trennya naik bisa saja seperti itu,” kata Sigit.

Hanya, tren di suatu daerah bisa saja fluktuatif. Artinya, pada periode tertentu, tingkat kredit macet tersebut naik tetapi di periode berikutnya menurun. Soalnya, di saat tersebut, kemampuan untuk membayar cicilan menurun atau sebaliknya.
Β 
β€œIni terjadi terutama di daerah-daerah yang masyarakatnya banyak tergantung pada komoditas pertanian yang harganya fluktuatif,” kata Sigit.

(arf/ddn)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads