βSecara umum, tingkat kredit macet secara nasional di segmen kendaraan roda dua masih terbilang belum mengkhawatirkan,β tutur salah seorang eksekutif di sebuah lembaga pembiayaan nasional yang dihubungi detikOto, Senin (7/12/2015).
Namun, lanjutnya, jika dicermati tren yang ada di wilayah-wilayah tertentu tren kredit macet tersebut mengalami peningkatan. Dia menyebut di wilayah Sumatera, di saat harga komoditas sawit dan karet yang harganya turun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber itu menyebut, tren peningkatan kredit macet tak hanya dialami perusahaannya saja, tetapi juga perusahaan lain. Dia menyebut sepanjang Januari hingga September lalu perusahaannya membukukan kredit macet otomotif sebesar 1,7 persen.
βPada periode sama tahun lalu, NPL (non performing loan) hanya 1,4-1,5 persen. Tapi itu secara total ya, kalau per daerah bisa bervariasi, ada yang naiknya cukup tinggi, tinggi, atau bahkan flat atau tidak ada,β ujarnya.
Sementara itu, Ketua Bidang Komersial Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), Sigit Kumala, tak menampik kabar seperti itu.
βInformasi yang saya terima, secara nasional atau secara keseluruhan kredit macet di segmen sepeda motor itu hanya 2,5 persen. Artinya, ya masih cukup wajar. Tetapi kalau dibilang di sejumlah daerah trennya naik bisa saja seperti itu,β kata Sigit.
Hanya, tren di suatu daerah bisa saja fluktuatif. Artinya, pada periode tertentu, tingkat kredit macet tersebut naik tetapi di periode berikutnya menurun. Soalnya, di saat tersebut, kemampuan untuk membayar cicilan menurun atau sebaliknya.
Β
βIni terjadi terutama di daerah-daerah yang masyarakatnya banyak tergantung pada komoditas pertanian yang harganya fluktuatif,β kata Sigit.
(arf/ddn)











































Komentar Terbanyak
Penjelasan Polisi soal Alphard yang Terobos Zebra Cross di HI Nunggak Pajak
Wujud Mobil Keciduk Isi BBM Subsidi Berulang dalam Sehari, Pakai QR Code Beda-beda
Pernyataan BYD Soal Seal Terbakar di Cikampek